Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

BAGAIMANA ISLAM TERSEBAR DI AFRIKA?

I. PENDAHULUAN

Di tanah air, sepanjang yang penulis ketahui -mudah-mudahan salah- biasanya ketika orang mendengar kata Afrika, yang tergambar di benak mereka adalah sebuah potret dari kelaparan, gersang, kekurangan air, ketertinggalan zaman dan bahkan lebih parah lagi benua belum mempunyai kemajuan.

Dugaan-dugaan ini tidak sepenuhnya benar, memang ada, tetapi banyak yang sebaliknya. Hal yang dikhawatirkan adalah jika asumsi sementara orang begitu, maka mereka akan menafikan peradaban Afrika di masa lalu. Justru sebagaimana yang diceritakan oleh buku-buku sejarah, banyak kebudayaan yang telah dirintis disana, ilmu pengetahuan dan peradaban berkembang pesat jauh sebelum peradaban lain terdengar di telinga.

Afrika (africa) seperti yang sudah dikenal orang banyak adalah sebuah nama dari salah satu diantara 5 Benua di dunia. Dalam bahasa arab ia biasa diistilahkan dengan kata "al-Qaarah al-Ifriqiyaa" atau "al Qaarah as-Samraa" (benua coklat). Menurut para ahli bahasa, kata Afrika diambil dari nama salah satu Kabilah Barbar yang disebut "Afarck" atau Afarickga". Kabilah ini hidup dan tersebar di sebelah utara Benua Afrika dekat Tunisia. Masih menurut mereka juga, bahwa penamaan Benua ini diberikan oleh golongan "Fiiniqiyyun" (para saudagar yang mengadakan pelayaran perdagangan) pada masa sebelum emperium romawi berkuasa di Afrika.

Penduduk Asli Benua Afrika.
Menurut penuturan sejarah, Benua Afrika ditinggali oleh berbagai macam suku dan golongan. Mereka membuat kebudayaan dan peradaban yang mempunyai karakter berbeda satu dengan lainnya. Secara umum kebudayaan-kebudayaan mereka berbicara tentang kemasyarakatan dan perekonomian (dagang). Jika dilihat dari segi keagamaan, penduduk Benua Afrika menyembah binatang dan keajaiban alam, seperti gunung, pohon besar dsb. Diantara suku-suku asli Afrika adalah:

1. Suku Banto.
Tersebar di sebelah selatan benua, mereka mempunyai cabang, antara lain Suku Zoulou yang memiliki tempat tinggal di tepi pantai timur hingga selatan Benua, Suku Kikiyo, Suku Masay di Kenya dan Bancka di Uganda serta Suku Bassmen dan Aqzeam. Karena menempati daerah pesisir pantai, mereka semua hidup bergantung pada hasil peraian dan sedikit yang bergantung dengan hasil perkebunan. Selain itu, ada juga sebuah golongan di ujung selatan Benua Afrika yang bernama "Honontout", mereka bertani dan menggembala.

2. Etnis "Sawahili''.
Banjir besar yang menyebabkan jebolnya bendungan "Ma'rib" di negri Yaman telah mengakibatkan banyak dari kabilah dan suku-suku yang ada disana hijrah secara besar-besaran. Diantara kabilah yang ikut hijrah adalah kabilah "Habasyat". Mereka pergi dari Yaman ke sebuah tempat yang kemudian tempat itu diberi nama Habasyah (sekarang kita kenal dengan Ethiopia) dan bercampur baur dengan penduduk setempat. Dari hasil percampuran antara kabilah Habasyat dengan penduduk asli inilah terlahir Etnis Sawahili.

3. Suku-suku lainya adalah Jala, Danaqel, Somalia dan Itsyubiyuun (penduduk asli Ethiopia). Di sebelah utara tinggal kabilah Afarck, mashriyyin (pendatang Mesir), Nouba dan Barbar. Di sebelah barat suku Hausa, Fullani, Shanjae, dan Madingjo. Suku Madingjo mempunyai cabang yaitu suku Maleng, Bambara, Deola dan Shonink. Suku-suku inilah yang menjadi cikal bakal Kerajaan Islam Ghana di sebelah barat benua pada abad pertama masehi.

Dalam melanjutkan kehidupan, kebanyakan mereka bergantung pada pertanian, dan bergabai macam perdagangan seperti perdagangan gading gajah, emas, kulit, bulu unggas dan mutiara. Setelah membicarakan penduduk yang pernah tinggal Afrika, kita akan membicarakan faktor-faktor terpenting yang menjadi tonggak penyebaran Islam di Benua Afrika


II. BAGAIMANA ISLAM TERSEBAR DI AFRIKA?

Pada dasarnya, jika membicarakan faktor yang memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Afrika itu terpusat pada dua hal; Pertama, karakter penduduk asli Afrika yang terbuka dan mudah tertarik dengan hal yang serba baru, sehingga ketika Islam masuk menawarkan konsep-konsepnya -seperti penghormatan terhadap orang tua, kejujuran dalam berdagang, akhlak mulia kepada sesama serta persamaan golongan- mereka segera menanggapinya dengan senang hati.

Kedua, kondisi alam Benua Afrika yang tidak dapat menyediakan semua kebutuhan hidup penduduk, sehingga hal ini ketika tercium oleh para pedagang, pelayar dan pelancong, mereka segera tertarik untuk menjajakan tawaran dagangan-nya. Selain berdagang dan membuat jalur baru, mereka juga menawarkan Islam. Inilah gambaran cuaca yang membantu penyebaran Islam di Afrika. Pada cuaca seperti inilah lima faktor utama penyebaran Islam di Afrika berperan, yaitu Pembebasan (jihad), Ajaran Sufi, Perdagangan, Para Ulama dan Muballigh serta Konsep Persamaan Golongan. Semuanya akan kita bicarakan sebentar lagi.

1. Pembebasan (jihad).
Di dalam Islam, pembebasan ini diistilahkan dengan Jihad atau Qitaal. Jihad memiliki peran terpenting dalam penyebaran Islam di Afrika. Dalam literatur arab baik klasik maupun kontemporer, makna jihad tidak seperti hal yang diklaim oleh sebagaian Orientalis Barat yang mengatakan bahwa Jihad adalah sebuah bentuk dari terorisme dan penghancuran, hal ini perlu di rekaji ulang karena jika dibiarkan, pada ujung-ujungnya akan berakhir pada sebuah asumsi dan tuduhan bahwa Islam itu tersebar dengan pedang (paksaan).

Selanjutnya kita perlu mengetahui hakikat jihad itu sendiri. Secara etimologi, jihad berarti mengerahkan kemampuan. dan epistimologinya adalah memerangi kaum kuffar/non muslim yang menguasai sebuah wilayah setelah ajakan perdamaian dan penolakan mereka. Jihad mempunyai beberapa karakteristik, yang paling menonjol adalah pembebasan rakyat yang dikuasai oleh kerjaan zalim dan semau gue, lebih jauh membebaskan rakyat dari ketertindasan.

Hal ini bisa kita temukan di dalam Sejarah Nabi dan Sejarah Kekhalifahan Islam, belum pernah ada sebuah wilayah yang diperangi oleh tentara Islam kecuali didalamnya ada penguasa yang zalim dan semau gue. Di zaman Rasulullah SAW, Jihad lebih diarahkan kepada pembelaan diri dari serangan dan tipu muslihat kuffar. Begitu pula di zaman Khulafaurrasyidin. Khalifah pertama Abu Bakar Shiddiq, tatkala memberikan pesan kepada pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid dan terkenal dengan sebutan (jaisy usamah), beliau berwanti-wanti kepada mereka untuk tidak membunuh wanita, anak-anak, orang tua, para ahli ibadah dan bahkan pepohonan yang sedang berbuah.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa konsep jihad bukanlah untuk menjajah, merusak apalagi membabi buta, akan tetapi lebih dekat kepada makna pembebasan, pembelaan dan penyelamatan. Bukti lainnya adalah kenyataan bahwa wilayah yang telah dibebaskan oleh kaum muslimin itu mengalami kemajuan pesat, terutama nasib rakyatnya menjadi lebih baik dan mendapatkan haknya setelah sebelumnya dikekang kekuasaan zalim.

Tidak berhenti sampai disitu, setelah berhasil membebaskan suatu wilayah, kaum muslimin juga meletakkan undang-undang dasar yang dapat mengatur wilayah yang telah dibebaskan tersebut. Bagi non muslim ditawarkan untuk masuk Islam, jika menerima, mereka akan disamakan dengan kaum muslimin dalam hak dan kewajibannya. Jika mereka belum bisa menerima ajakan Islam, maka mereka dikenakan Jizyah (pungutan denda) sebagai bentuk bakti dan ketaatan mereka terhadap negeri.

Jizyah secara tidak langsung juga merupakan strategi untuk mengetahui bentuk ketaatan orang non muslim dan kerjasama mereka terhadap negara, karena Islam memandang bahwa bukan hanya kaum muslimin saja yang diharuskan membangun negara, melainkan penduduk non muslim juga ikut diajak untuk memerhatikan negara, bahkan mereka juga diberikan hak dan jaminan keamanan, baik jiwa, kehormatan, harta dan kebebasan menjalankan agamanya. semuanya dan sepenuhnya oleh dijamin oleh kaum muslimin.

Belakangan ini ada sekelompok Orientalis yang berani melempar tuduhan bahwa Islam tersebar dengan cara paksaan, mereka telah keliru dan salah paham. Sebab dalam ajakan untuk memeluk Islam, al quran dalam pendekatannya kepada manusia tidak pernah memberikan konsep-konsep dogmatis tanpa menyentuh naluri akal manusia, akan tetapi ia menjelaskan hal-hal yang dapat diterima akal sehat, yaitu dengan menerangkan mana jalan yang tepat dan mana jalan yang salah dengan didukung bukti-bukti kekuasaan Allah SWT, kemudian akal manusia dibebaskan untuk membedakan dan memilih mana yang seharusnya dipilih, baru setelah itu mereka akan dimintai pertanggung jawaban terhadap pilihannya. Belum pernah terdengar di telinga kita ada agama yang memberikan penghormatan dan perhatian besar terhadap naluri akal manusia kecuali agama ini.

Dengan konsep-konsep seperti inilah penduduk non muslim di Benua Afrika tertarik dan berbondong-bondong untuk memeluk Islam. Selain itu penyambutan baik dari penduduk Syam, Mesir dan Barbar disebelah utara yang mereka pada dasarnya mereka semua membenci kekuasaan byzantium saat itu, turut melancarkan penyebaran Islam di Afrika. setelah Jihad, ada juga faktor lain yang turut berperan dalam menyebarkan Islam di Afrika yaitu Ajaran Sufi.

2. Ajaran Sufi (Shuufi).
Dari sekian banyak ciri khas ajaran sufi yang tidak ekstrim adalah kelenturan, kemudahan, kebebasan dan toleransi bagi pemeluk agama lain. Ajaran sufi yang didasari cinta dan kasih sayang telah berhasil menarik pandangan penduduk Afrika untuk mengenal lebih jauh tentang Islam. Tabiat ajaran sufi yang demikian sangat sesuai dengan karakter penduduk Afrika.

Apa itu Sufi? Asal-usulnya bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa kata sufi diambil dari kata shuffah, yaitu nama dari salah satu dukun wanita di zaman jahiliah. Makna ini jauh dari kebenaran, karena munculnya istilah sufi setelah masuknya Islam di Jazirah Arab, bukan pada zaman jahiliah. Ada juga sebagian yang menganggap ia berasal dari kata Shuffah (ahlus shuffah) yaitu para sahabat yang tinggal di sebelah utara pelataran Masjid Nabawi di zaman rasul, mereka tinggal disana karena hidup miskin dan tidak mempunyai tempat tinggal serta keluarga. Makna ini juga belum bisa dibenarkan, karena -kata shuffah- jika dinisbatkan kepada pelakunya, ia akan menghasilkan kata shuffi, bukan shufi. Di antara ahli bahasa ada juga yang mengaitkan kata sufi dengan kata Shafa yang artinya kejernihan. Pendapat ini di satu sisi dapat diterima karena ada hubungannya dengan ajaran sufi yang menitik beratkan kejernihan hati, akan tetapi disisi lain pengambilan kata ini tidak sejalan dengan kaidah bahasa, karena kata shofa jika dinisbatkan kepada pelakunya akan berbunyi shoofi dan bukan shufi. pendapat terakhir -masih seperti yang diinformasikan oleh literatur arab- adalah berasal dari kata Shuf yaitu kain wol.

Makna terakhir inilah yang penulis duga kuat lebih dekat kepada kebenaran. Karena kita bisa menemukan makna epistimologinya yang berkaitan dengan etimologi tersebut. Sejarahnya bermula dari sekelompok orang yang tidak memiliki kepentingan dan ketertarikan dengan hal duniawi, mereka tidak silau dengan kenikmatan dunia yang sementara. Sebagai gantinya mereka menyibukkan diri dengan kenikmatan akhirat. untuk mencapai maksudnya, mereka sangat berhati-hati terhadap sesuatu yang berhubungan dengan dunia, diantaranya tidak mau mengenakan pakaian yang bagus dan mewah seperti sutra dan beludru, akan tetapi cukup dengan memakai wol sebagai pakaian sehari-hari. Pakaian ini seolah-olah melambangkan kesederhanaan. Karena tidak tertarik dengan dunia, golongan ini lebih banyak memikirkan akhirat dan menitikberatkan kejernihan hati. Mereka berkembang dan kemudian dikenal dengan Kaum Sufi.

Banyak ajaran sufi yang berperan dalam penyebaran Islam di Afrika, disini kita akan membicarakan tiga ajaran saja yang terbesar dan yang mempunyai penyebaran paling luas. yaitu Qadiriah, Tijaniah dan Sanusiah.

Qadiriah.
Didirikan pada abad 6 hijriah/12 masehi (1199-1100) oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Qadiriah termasuk aliran sufi yang paling luas persebarannya di Afrika. Aliran ini mulai memasuki bagian barat Afrika pada sekitar abad 15 masehi. Mereka menjadikan daerah yang bernama Wullata (niger) sebagai pusat perkembangannya. Selang beberapa waktu mereka pindah ke daerah Tombokto (mali). Pada abad 18 masehi, Qadiriah telah berhasil membuat kebangkitan pada sektor agama, aktivitas dakwah mereka disepanjang gurun utara dan barat sudan berhasil memicu kebangkitan tersebut. Mereka juga memusatkan aktivitas dakwah di bagian barat Afrika, khususnya di daerah-daerah sekitar Senegal dan aliran Sungai Nejer.

Selain itu mereka juga mengutus para penduduk Afrika yang masuk Islam ke sekolah-sekolah di kota Qayrawan (Maroko), Universitas Zaytunah dan al-Azhar untuk menyebarkan Islam sekembalinya dari sana. Dalam dakwah mereka mengutamakan nasehat dan pengaruh guru terhadap muridnya.

Tijaniah
Tijaniah juga merupakan salah satu dari aliran sufi yang berperan dalam penyebaran Islam di Afrika. Didirikan oleh Syaikh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Salim at- Tijani salah seorang ulama dari jazair. Beliau menamatkan studinya di Mekah, Madinah dan Mesir. Para pengikut aliran ini menyebut dirinya dengan "Ahbaab". mereka mempunyai doa dan wirid-wirid tersendiri.

Kebanyakan dari pengikut Tijaniah tidak menyukai permainan dalam dunia politik, meskipun pernah ada usaha dari Abdul Qadir al-Jazairi untuk memanfaatkan gerakan mereka kedalam dunia politik. Ajaran tijaniah tersebar di Mesir, bebrapa negara arab dan asia, akan tetapi penyebaran mereka yang paling luas adalah di Sudan.

Sanusiah.
Dicetuskan pada tahun 1837 masehi oleh Siidi Muhammad Ali as-Sanusi, seorang pakar fikih asal Jazair. Ajarannya banyak berbicara tentang reformasi agama dan pemurnian akidah. Pemikiran mereka banyak dipengaruhi ajaran wahabi, hal ini terlihat jelas dari pengharaman mereka terhadap ziarah kubur, minum kopi dan merokok serta ajakan mereka untuk kembali kepada quran dan sunnah serta pemahaman salafus shalih. Pengikut Sanusiah menolak mentah-mentah segala bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh barat, khususnya Eropa.

Menurut catatan sejarah, aliran sanusiah banyak tersebar di sebelah utara Benua Afrika, pusatnya di daerah gurun ber-oase yang bernama Jaghboub di libya, di tempat itulah ribuan pengikut aliran sanusiah hidup dan belajar hingga kemudian mereka menyebar untuk berdakwah ke berbagai negara di Afrika.

3. Pedagang.
Ahli sejarah sepakat bahwa para pedagang termasuk dari mereka yang mempunyai andil besar dalam penyebaran Islam di Afrika maupun di belahan dunia lainnya. Hal ini disebabkan karena selain berdagang, mereka juga berdakwah. Keberhasilan yang mereka capai jika kita selidiki kembali karena didukung tiga hal.

Pertama, para pedagang dalam menyebarkan Islam menggunakan konsep Plur (peace love unity and respect), yaitu penawaran Islam dengan kelembutan dan kasih sayang, serta menjadikan akhlak terpuji sebagai alat penarik perhatian masyarakat yang mengadakan kontrak perdagangan dengan mereka. Dalam berinteraksi dagang, mereka menggunakan kejujuran, sikap tepat janji, perkataan lemah lembut dan berkomitmen tinggi. Hal inilah yang membuat orang-orang tertarik untuk lebih mengenal Islam setelah menilai tingkah laku mereka itu.

Kedua, dalam kehidupan bermasyarakat, para pedagang terjun langsung kelapangan kemudian bercampur baur dengan penduduk setempat. Selain menjajakan dagangannya, mereka juga bersahabat, membantu dan bahkan menikahi penduduk setempat.

Ketiga, salah satu dari kewajiban pedagang adalah mencari akses jaringan dan pasar dagang seluas mungkin, kenyataan ini telah membawa mereka untuk tidak puas tinggal berdiam di suatu tempat, melainkan selalu mencari wilayah dan tempat-tempat baru untuk meluaskan jaringan dagangnya. Mereka melewati samudra, padang pasir dan singgah di berbagai macam negeri. Hal inilah yang membantu tersebarnya Islam dalam waktu yang relatif singkat di Benua Afrika.

4. Para Muballigh dan Ulama.
Selain Jihad, Ajaran Sufi dan Perdagangan, para muballigh dan ulama juga tidak kalah saing dalam menyebarkan Islam di Afrika. Bahkan menurut informasi yang diceritakan buku-buku sejarah, bahwa munculnya ulama-ulama dan para muballigh besar Islam berasal dari Benua Afrika. Jika Islam masuk dengan cara jihad kemudian menawarkan perubahan tatanan masyarakat, maka para ulama dan muballigh-lah yang mengaplikasikanya di dalam tubuh masyarakat itu. Selain itu mereka juga mengajarkan para penduduk untuk memahami tantangan hidup dan mencarikan pemecahannya. Banyak contohnya, Diantaranya Hasan bin Nu'man, seorang gubernur sekaligus ulama yang terkenal menerapkan persamaan golongan antara Bangsa Arab dengan Barbar serta meletakkan dasar-dasar manajemen perkantoran dsb.

Kerajaan Adarisah dan Murabithin di Maroko merupakan dua kerjaan yang mempunyai jasa besar dalam menyiapkan serta menyebarkan ulama dan muballigh, dalam kata-katanya, Syaikh Abdullah bin Yasin pendiri Kerajaan Murabithin meletakkan dasar dasar perjuangan mereka " Pergilah berdakwah dengan berkah Allah! berilah kaum kalian peringatan akan azab Allah! apabila mereka bertaubat maka biarkanlah, akan tetapi apabila mereka berpaling dan tetap pada kezaliman-nya maka kami akan memerangi mereka hingga allah SWT memutuskan nasib diantara kita!". kalimat beliau inilah yang dijadikan pegangan para muballigh dari kerajaan Murabithin.

Selain berdakwah, para ulama dan muballigh juga membangun masjid dan madrasah-madrasah di berbagai tempat bagi para mu'allaf, hal demikianlah yang membantu Islam semakin tersebar dan dipelajari di Afrika.

5. Kesetaraan Golongan
Dari keistimewaan yang tidak dimiliki agama-agama lain selain Islam adalah kesesuaiannya dengan fitrah manusia, artinya ajaran, perintah dan larangan yang ada dalam Islam itu dapat diterima manusia, baik secara naluri maupun akal, teori maupun praktek. Salah satunya adalah konsep kesetaraan golongan diantara manusia. konsep ini menjelaskan bahwasanya semua manusia pada hakikatnya sama dihadapan Allah SWT, tidak ada perbedaan antara si hitam dengan si putih, si kaya dengan si miskin, si kuat dan si lemah kecuali dengan taqwa. Tolak ukur inilah yang membedakan mereka di hadapan Allah SWT.

Kenyataan sosial yang dihadapi penduduk Afrika pra Islam adalah budaya pengkastaan manusia, pembedaan antara golongan dan ras serta perbudakan. Saat itu si kaya dianggap lebih mulia dari pada si miskin, begitu pulang mereka yang mempunyai keturunan raja-raja memandang picik masyarakat kecil. Penghinaan dan ejekan pun menjadi kebiasaan yang tidak dipertanyakan lagi disana. Seakan akan ada jurang pemisah antara golongan ras dan etnis. Tentu saja yang menjadi bual-bualan hinaan dan ejekan adalah mereka yang ada di golongan menengah kebawah. Manusia manapun dan kapanpun yang menghadapi kenyataan sedemikian dapat dipastikan -secara naluri dan akal- akan menolak lalu memberontak, menuntut penghormatan dan persamaan.

Di tengah-tengah keadaan semacam inilah Islam datang menawarkan konsep kesetaraan golongan. Sesungguhnya konsep ini secara tidak langsung berbicara tentang pentingnya menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia diantara manusia. Mengapa demikian? Karena ketika manusia dianggap sama di hadapan Allah SWT maka tidak layak bagi mereka untuk saling menyombongkan diri satu dengan lainnya, karena mereka sama maka dilarang untuk saling buruk sangka, karena persamaan juga mereka dilarang saling hina dan caci maki, apalagi saling menganjing-babikan. Belum tentu penghina lebih mulia dengan yang dihinanya, belum tentu juga hinaan yang dilemparkannya tepat, bisa jadi yang dihina lebih mulia dari penghina dan hinaannya lebih dekat untuk menggambarkan dirinya.

Dengan pola fikir semacam ini Islam menghapus pengkastaan dan penggolongan. Hasilnya? seperti yang kita duga kuat. Berbondong-bondong penduduk Afrika tertarik untuk memeluk Islam. Selain itu kegagalan misionaris juga turut mendukung masuknya Islam di Afrika, mereka menganggap bahwa ajaran yang ditawarkan misionaris hanya untuk golongan menengah keatas.

III. KESIMPULAN

Sebelum Islam masuk, kenyataan yang dihadapi penduduk Afrika adalah ketertindasan oleh kezaliman para penguasa, kebodohan, pemberontakan jiwa, keingin-tahuan dsb. Dalam keadaan seperti inilah Islam datang dengan konsep-konsepnya yang dapat diterima mereka sepenuhnya, dari mulai pembebasan wilayah yang dikuasai oleh raja zalim, ajaran sufi yang menyentuh hati mereka dengan kasih sayang, para pedagang yang berinteraksi langsung dengan mereka sekaligus menjadi contoh dalam pergaulan, para ulama dan muballigh yang menjelaskan serta membimbing mereka untuk lebih mengenal Islam serta penghormatan Islam terhadap kemuliaan manusia.

Semua hal tersebut berhasil memainkan perangnnya. ia membuat sebagian besar penduduk Afrika yang sebelumnya hidup dalam lumpur sesat, kegelapan ilmu, ke bobrokan akhlak, kehimpitan sosial serta kerancuan aturan, menjadi sebaliknya.

Usai acara Aqiqah untuk cucunya Ir. H. Abdul Kohar di wisma NU-Khartoum Sudan, penulis dan kawan-kawan NU sempat ngobrol-ngobrol santai dengan beliau. Kebetulan kami baru selesai ujian 1 madah, yaitu Intisyar Islam (di Afrika). Sooo, kita ngobrol masalah itu sedikit, ternyata Pak Kohar yang menjabat sebagai pensiuanan pertamina dan senior salah satu perusahaan minyak di sini tertarik dan mesen tulisan tentang penyebaran Islam di Afrika. Sekalipun ditulisnya biz ujian, tapi kayaknya belum basi. Khartoum, 11 Agustus 2008.