Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

BULETIN KHUSUS KONFERCAB VII NU SUDAN


I. PENDAHULUAN.

Hari kemarin adalah sejarah, jadi perlu dijadikan pelajaran. Hari ini adalah kenyataan, jadi harus dioptimalkan. Sedangkan hari esok adalah masa depan, jadi wajib dibicarakan sekarang juga.

Semenjak kehilangan sekertariat pada akhir 2005, Nahdlatul Ulama Khartoum sudan mengalami masa-masa sulit. Sekertariat yang dijadikan tempat untuk menjalankan program kerja dan hal lainnya seperti pusat kegiatan, tempat musyawarah, berkumpul dan menyatukan konsep, bahkan sebagai "rumah kost" bagi sebagian kawan-kawan. Kami terpaksa gulung tikar karena berbagai kesulitan administrasi.

Kenyataan ini membawa dampak yang cukup signifikan, dengan kehilangan kantor, banyak program kerja yang tidak terlakasana dengan baik, pertemuan semakin terasa sulit sehingga komunikasi-pun terhambat seiring dengan menyebarnya warga NU di tempat yang berjauhan. Jika boleh diibaratkan bagaikan sebuah perahu layar bocor yang hampir tenggelam. Keadaan semacam ini pernah dialami oleh nahdlatul ulama Khartoum sudan, tentu saja hal ini perlu untuk dijadikan pelajaran.

Waktu bergegas. Kepengurusan berganti. Tahun 2007 Di bawah pimpinan Muhammad Shohib Rifa'i sebagai Ketua Tanfidzi, bau-bau kemajuan sudah mulai tercium. Terbukti dengan meluasnya jaringan yang terjalin antara pengurus dengan pihak KBRI dan pihak lain dari berbagai instansi penting sudan yang misinya se-iya dengan misi NU. Puncaknya Nahdlatul Ulama sudan terdaftar resmi pada kementrian urusan dakwah Sudan. Ini merupakan sebuah prestasi dan tolak ukur penting, karena semua program yang dilaksanakan NU akan didukung sepenuhnya oleh badan tersebut, baik secara instansi ataupun dorongan pribadi.

Dugaan ini terbukti dengan bertambahnya jaringan. Nahdlatul ulama semakin terdengar di telinga Sudan. Mulai dari kementrian, Universitas al-Quran al-Karim, Badan Bakat, Kantor Urusan Pelajar Asing, Majlis Dzikir wa az-Dzakirin, Kantor urusan Haji dan Umroh, Majma Fikih Islam, al-Hasanain corp, dll.

Waktu kembali bergegas. Kepengurusan yang telah dipikul Cak Shohib dipikul Mirwan Akhmad Taufiq dari Mojokerto. Prestasi yang telah berhasil dicapai oleh kepengurusan sebelumnya berhasil dipertahankan. Meskipun tentunya tidak terbebas dari kekurangan disana sini. Hal ini terbukti dengan menambahnya semangat ke-NU-an warga NU. Kajian-kajian peningkatan SDM mencapai prestasi yang baik. Itu diantara warga NU sendiri maupun tenaga kerja Indonesia yang berada di Sudan. Pengajian al-Hijrah yang ditangani secara intensif oleh Lembaga Dakwah memberikan kontribusi besar bagi para Tenaga Kerja Indonesia yang tentunya membutuhkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan kerja.

Dimasa kepengurusan Mirwan, ada catatan penting lainnya yang mesti dibaca juga, seperti dibentuknya Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, Badan Bantuan Mahasisiwa Indonesia, Majlis Ta'lim Riyaadul Muhibbin, Safarina Travel untuk Haji dan Umrah, Sanggar Seni Budaya. Memang, meski tidak semuanya resmi mengikut kepada NU, namun hal ini patut diperhitungkan karena lahir dari kreativitas warga NU juga. Puncaknya dengan didapatkannya kembali sekertariat yang telah dirindu-rindukan sekian waktu. Inilah potret kemajuan PCI dua tahun belakangan. Pasca kedatangan penulis di Khartoum.

Tentunya kepengurusan keduanya tidak berjalan mulus seratus persen, melainkan sebagai ada kekurangan-kekurangan disana sini yang perlu dicek ulang dan diperbaiki. Ke arah inilah penulis titik beratkan pembicaraan kita.

II. PEMBARUAN MENUJU PERUBAHAN

Konsep pembaruan yang diusulkan disini sebenarnya bukan barang baru lagi. Kita barangkali pernah mendengarnya di televisi ataupun media lain, namun penulis kira kesempatannya sangat tepat disaat konferensi seperti ini. Sebelumnya marilah kita cermati falsafah sebuah baju baru. Baju yang baru saja kita beli di supermarket atau pasar tentu warnanya masih cerah, kainnya licin dan baunya segar, kitapun merasa nyaman mengenakannya. Setelah lama dipakai, dipastikan baju tersebut warnanya akan berubah menjadi kusam, kainnya lecek dan baunya tercium kurang sedap. Kitapun merasa malas dan malu untuk megenakannya. Nah, baju ini agar dapat menjadi seperti baru kembali membutuhkan sebuah ''Pembaruan'' yaitu dengan cara dicuci menggunakan air bersih. Maka ia akan terlihat seperti baru lagi. Maka mencuci baju adalah memperbaharuinya.

Bukan hanya baju, namun segala sesuatu membutuhkan pembaruan. Rumah, gedung, kantor, pernikahan, pekerjaan, undang-undang dsb bahkan agamapun membutuhkan pembaruan. Apa itu pembaruan? Secara epistimologi, pembaruan adalah mengembalikan sesuatu sehingga terlihat seperti baru lagi. Memperbarui baju yang kotor adalah dengan mencucinya sehingga terlihat bersih, pembaruan dalam agama adalah menghidupkan kembali ajaran-ajaranya. Pembaruan tidak selalu identik dengan mengubah atau menggantikan, melainkan lebih dekat kepada penyesuaian konteks.

Seperti baju dan agama, Nahdlatul Ulama Khartoum Sudan-pun membutuhkan pembaruan disana-sini. Banyak hal yang harus diperbarui. Struktur kepengurusan, manajemen, program kerja dsb harus diperbarui dan dicek ulang untuk disesuaikan, begitupula semangat kebersamaan warga NU dalam menjalankan tugas-tugas tersebut. Dengan mendengar "cerita-cerita sedih" yang melengkapi sejarah NU Sudan, kemudian menemukan konsep pembaruan sebagai tawaran koreksi, maka sudah seharusnyalah kita menyadari akan pentingnya sebuah pembaruan untuk menuju kearah perubahan yang lebih baik lagi.

Seperti yang ditulis Rovita AZ dalam artikelnya, konferensi adalah forum tertinggi dari sebuah organisasi. Karena ia membicarakan visi, misi dan langkah kedepan. Tak pelak lagi sebuah organisasi jika tidak maksimal menggunakan momentum ini, maka organisasi tersebut diduga keras akan gagal melangkah ke depan.

III. PENUTUP - DOA

Maka dengan diadakannya acara semacam konferensi inilah kita berharap ia dapat menjadi semacam tolak ukur kemajuan dan perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya serta dapat menentukan sosok pimpinan yang mampu menjalankan misi tersebut. Bukan hanya NU Sudan, namun organisasi lain baik kemahasiswaan ataupun bukan patut memperhitungkan pembaruan semacam ini. Amin.

Tulisan ini dimuat pada Buletin Khusus KONFERCAB VII Nahdlatul Ulama Sudan di Auditorium H. Agus Salim KBRI Khartoum Sudan. 19 Okt 2008.