Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

MANDOR DAN PEKERJANYA

Bagi mahasiswa, ada saat-saat dimana kiriman bulanan terlambat yang membuat mereka terkadang mengeluh-eluh ''Gak jajan deh''. Begitu juga para pegawai negeri atau bukan negeri dibuat yang uring-uringan dengan gaji yang belum sampai hari turun-nya.

Betapapun nasib, keduanya masih beruntung dibandingkan saudara kita yang berada pada garis kemiskinan atau dibawah garis itu. Jangankan gaji bulanan, malam-malam saja belum tentu bisa dinikmati dengan tidur nyenyak lantaran perut yang keroncongan. Ada juga keadaan yang sampai memaksa mereka berkata ''Tuhan dimana engkau? Bukankah engkau janjikan rezeki bagi setiap makhlukmu?''. Kenyataan sosial masyarakat yang sering kita jumpai. Menarik bukan? ini patut kita perhatikan.

Marilah kita bercerita tentang seorang mandor dan anak buahnya yang malas. Dalam sebuah konstruksi gedung tinggi nan indah. Namun sayang, gedung tinggi dan indah itu tidak segera selesai. Sampai melebihi waktu proyek masih belum juga selesai. Meskipun pemalas, Sang Mandor sangat mencintai pekerjanya. Ia berharap esok anak buahnya bisa bekerja dengan rajin. Berkali-kali ia menegur pekerjanya

Suatu hari seperti biasa ia hendak menegur salah satu pekerjanya yang sedang malas. Lalu ia berfikir untuk menjatuhkan sesuatu tepat di atas kepala pekerjanya itu agar si pekerja mau menengok keatas dan mendengarkan perintahnya. Sang mandor melemparnya dengan uang logam. Pluk! uang logam mengenai kepala pekerja. Namun sayang ia tidak menengok keatas malahan sibuk mengambil uang tersebut. Mandor kembali menjatuhkan uang, hal yang sama kembali terjadi sampai tiga kali. Untuk ke empat, sang Mandor mengambil batu lalu melemparkannya ke pekerja malas tadi, ternyata dengan batu barulah si pekerja mau menengok keatas. Hei! siapa itu yang ngelemparin batu!!

Kita sebagai makhluk Allah telah mendapatkan kenikmatan yang kita sendiri tidak bisa menghitungnya, baik berupa rezeki, kesehatan panjang umur, kesempatan belajar dan lain-lain yang tiada henti-hentinya. Apakah kita sudah menyadari siapa yang memberikan rezeki itu? Maukah kita menegadah keatas untuk bersukur padanya? Sederhana memang, namun penting. Ataukah kita menunggu batu.