Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

MENGENALI PROFIL DIRI SENDIRI

22 Juli 2008, Kita seringkali mengalami kehausan spiritual. Wajah kebutuhan akan spiritual sejati semakin berdarah-darah. Berbagai pertanyaan seputar batiniah kerap kali belum terjawab oleh berbagai tulisan ilmiah ataupun konsep sementara pakar. Sementara itu sebagian orang menggunakan logikanya akal untuk mengisi kekosongan otak yang seharusnya diisi oleh tuntunan agama. Warna asli hikmah yang berada di balik semua kejadian di muka bumi ini serasa semakin memburam. Munculnya ajaran-ajaran yang tidak sesuai berhasil menyuapi sebagian tenggorokan para pemikir keras.Sesuatu yang digali dari sumber agama dan tasawuf terkesan lawas dan kerap kali ditemukan telah kadaluarsa di belakang pintu museum akademik. Banyak hal yang belum diterjemahkan dari kandungan ajaran islam, baik oleh cendekiawan muslim sendiri maupun cendekiawan barat lain. Kekosongan seakan-akan menjadi jawaban umum para pakar. Penulis akan mencoba menggambarkan secara ringkas tentang seputar psikologi spiritual manusia yang dilandasi konteks ke-fitrahan manusia.

Menuju kedewasaan spiritual.
Para kosmolog wajahnya pernah dicorat-coret dengan pertanyaan : Bgaimana, kapan dan mengapa segala sesuatu di alam raya ini bermula? ada yang menduga bahwa jagat raya muncul sekitar 10 atau 20 miliar tahun lalu dalam kondisi yang tidak terbatas apapun. Kemudian semuanya berputar putar dengan kecepatan tinggi lalu bertabrakan satu sama lain dan lama-lama menyatu dengan proses yang sempurna. Tidak ada istilah salah naro, belum diminyakin, macet atau kabel yang melintir. Disela-sela dugaan ini munculah pola pemikiran dan teori yang berupaya menawarkan penjelasan untuk kita.

Diluar ruang dan waktu zahiriah, ada makna yang belum dapat dijelaskan oleh sains kontemporer. Ia hanya dapat difahami dengan mengikuti peta yang telah dikoordinatkan agama. Artinya ada makna tersirat dibalik penciptaan seluruh alam raya ini yang harus kita temukan. Satu-satunya jalan untuk mencapainya yaitu dengan menapaki apa yang diarahkan oleh peta agama adalah dengan kepasrahan, penyucian bathin, iman yang kuat dan kemauan yang keras.

Jiwa akan menemukan ketenangannya manakala memulai perjalanan panjang ini. Anggaplah kita ini sebagai petualang spiritual. Para pencari spiritual mengomunikasikan meditasi dengan kesadaran tanpa menyerempet pemikiran, sehingga ia dapat melampaui kesadaran fisik. Apabila seluruh proses mental dihentikan, maka akan muncul kondisi baru yang berisi kesadaran murni, memasuki zona yang belum bisa dijelaskan dengan pemikiran ilmiah. Kondisi kenikmatan yang murni. Jika kita dapat memahami dunia natural, kita akan diduga kuat dapa memahami juga dunia supranatural dengan menangkap segala kejadian yang sangat luas maknanya.

Kejadian di dunia ini merupakan sejarah wajib bagi seseorang. Tatkala sang pengelana telah menemukan profil dirinya, ia akan menjadikan sejarahnya itu penuh dengan kebaikan, bermanfaat, matang, sebagai fasilitas pengantar ke sejarah kematian yang pasti. mMaka perjalanan di dunia ini tak lebih bagaikan membaca, menerjemahkan, mengaplikasikan peta yang telah disediakan agama.

Dimanapun sang pengelana berada, dalam kebudayaan, tempat atau masyarakat, ia tentu akan menemukan beragam corak, tekstur desain dan sebagainya. Perjalanan hanya akan bermakna jika mempunyai tujuan yang jelas dan benar. Peta berfungsi memberikan informasi dan arah mana tujuan, sedangkan apa tujuan tempatnya berada di dalam sisi bathiniah kita. Dari sini sang pengelana dituntut untuk memahami dan mengaplikasikan setidaknya dua hal; cemat membaca peta dan cerdas menyusun tujuan, agar perjalanan tidak tersesat, salah alamat, merangkak-rangkak dalam gelap, sia-sia dan penuh bahaya.

Semakin dewasa dan tua, cakrawala semakin terbuka lebar, kebijaksanaan meningkat, keterjagaan batiniah menguat, kematian pun juga mendekat. Di saat seperti ini kita akan semakin mengingat masa muda dan tahun-tahun awal kehidupan, berusaha menjamah akar dari satu ke lain-nya. Kesan, pesan, emosi, bayangan yang membekas semakin nyata di sore hari. dengan menelusuri sejarah wajib, kita akan lebih mudah untuk menyimpulkan bahwa disana ada faktor-faktor yang mengatur kehidupan yang belum dikenal dan tak tercium oleh hukum alam pasti.

Mengenali profil diri.
Manusia itu diciptakan berpotensi, ada yang telah menemukan potensinya, ada pula yang belum, sejatinya manusia yang belum mengenal potensinya aka dipaksa untuk terus bemain dalam berproses; proses pematangan jati diri untuk menuju insan kamil. Dari sinilah diketahui pentingnya menemu-kenalkan potensi diri dengan tantangan dan tuntutan. Lebih jauh dalam rangka menyukseskan proyek besar-besaran; keseimbangan dalam kematangan, atau dapat diterjemahkan lebih jauh dengan keseimbangan antara emosi spiritual dan emosi intelektual. Ini merupakan hal yang harus disekarangi, tidak dapat dibesok-pagikan lagi.

Komunikasi antara potensi diri dengan tuntutan, keseimbangan antara emosi spiritual dengan emosi intelektual adalah keniscayaan yang diharapkan. Hal ini mau tidak mau dapat menjadi kewajiban seorang muslim yang sadar, tentunya kejadian dan prosesnya haruslah dipolakan dalam bingkai tuntunan ilahi yang benar, bukan terputar-putar dalam jebakan lumpur setan yang selalu menganjing-babikan agama.

Muslim dalam konteks keislamannya diwajibkan untuk berproses menuju konsep insan kamil, ia akan menemukan kekamilanya manakala dapat menyeimbangkan antara emosi spiritual dengan emosi intelektual serta lingkungannya. Marilah kita memulai perjalanan ini lewat jalur agama sebagai mainset dasarnya. sesungguhnya islam sangat berperan aktif dalam proses penjati-dirian.

Islam mengajarkan untuk berbuat baik; kepada dirinya dan orang lain. Ini mengasumsikan pergaulan yang beradab dan tinggi, pergaulan yang dibangun dengan konstruksi cinta, kasih sayang, tolong menolang dan saling menghormati. Lebih jauh mengajarkan manusia tentang kemanusiaanya. Manusia yang tau kemanusiaanya diduga kuat telah mengenal profil dirinya. Pengenal-sadaran profil diri adalah langkah awal peniscayaan sebuah proses. Tanpa pengenalan semacam ini manusia akan menemukan wajahnya memucat. Seseorang yang berpijak pada tumpuan tepat dan mainset yang benar, dia dipastikan akan berjalan di dalam proses yang benar pula. Sebaliknya, mereka yang salah dari awal, akan terpaksa menghirup kopi pahitnya sendiri.

Agar lebih mudah kita sederhanakan dengan pertanyaan; siapa? mengapa? dan untuk apa? seorang muslim dituntut untuk menjawab pertanyaan ini. Adalah keniscayaan dari air mani yang dim uncratkan dalam rahim, berasal dari kehinaan yang benar-benar berada dibawah hina, terlahir dengan bermodal pendengaran, penglihatan, akal, hati dan perasaan. Modal dasar ini jangan sampai disalahgunakan. Sangat rugi manakala manusia tidak dapat menggunakan modal ini, bahkan dihabiskan sia-sia. Dari sinilah manusia akan menyadari kelemahannya, siapa dia? dia adalah mahluk Allah yang benar benar lemah dan hina yang tidaklah punya arti, jadi apa yang menbuatnya selama ini sombong dan dengki?

Selanjutnya dia akan bertanya; mengapa diciptakan? penciptaan manusia dalam Al-Quran adalah untuk meramaikan dan mengisi kehampaan bumi serta menjadi pimpinan makhluk hidup disana. Dari sini diteriakkan keras pada ketulian telinga manusia bahwa ia berkewajiban untuk membangun, meramaikan, menjaga, merawat alam raya, bukan justru membabi-buta dalam perusakan, penghancuran, penyalahgunaan fungsi alam. Untuk apa diciptakan? Al-Quran menginformasikan jawbanya; manusia dan seluruh makhluk hidup diciptakan untuk menyembah Allah SWT, dalam Al-Quran difirmankan “Dan tidaklah manusia dan jin itu aku ciptakan kecuali untuk menyembahku”.

Sekilas tercium bau-bau tipu disana, tetapi itu akan hilang manakala definisi makna Ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang membuat Allah SWT ridha, baik perbuatan, ucapan maupun lainnya. Manusia yang menjejalkan nasi ditenggorokannya adalah terhitung ibadah manakala hal itu membuatnya semangat untuk berbuat baik, kerjaan, menjual, menulis, belajar, berbicara semuanya tergolong ibadah ketika membuat Allah SWT ridha, inilah luasnya makna ibadah.

Inilah perjalanan menuju insan kamil. Seorang muslim dituntut bermain adil dan sesuai aturan. Akhirnya muslim yang mengerti siapa dia, mengapa dan untuk apa diciptakan, menemukan, menyeimbangkan, mengenali, bersikap.