Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

NGATIJAH DAN HARAPANNYA

Jombang Jawa Timur 1988.
Mereka telah saling mengenal semenjak dahulu ketika belajar bersama di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang Jawa Timur, bahkan sebelumnya, mereka telah menjadi sahabat baik yang selalu melewatkan waktu-waktu bersama di pematang sawah. Duduk berbagi timbel dan pisang goreng untuk makan siang dalam gubuk yang teduh, kemudian saling bercanda ria, bergurau-gurau mesra, tertawa-tawa bersama sampai letih, berangan angan dibalik rerumputan desa yang tinggi, barangkali nanti suatu hari salah satu dari mereka ada yang jadi menteri dan orang besar di Jakarta, maka izinkanlah aku sebagai orang pertama yang mengucapkan selamat padamu.

Sore hari mereka berpisah di depan musholla, Budiono pamit untuk pergi mengaji, Ngatijah berlalu untuk pergi menyiapkan makan malam Santri di Pondok Ayahnya. Diantara Ngatijah dan Budiono tidak ada apa-apa, hubungan mereka tetaplah hubungan, tidak berkembang kecuali sampai sebatas teman saja. Sejalan dengan keakraban mereka, hati kecil Ngatijah ternyata punya perasaan lain belakangan ini, timbul perasaan cinta dalam hatinya. Namun ia menyimpan cintanya untuk Budiono. Budiono yang pintar mengaji telah menawan hati Ngatijah, ia merahasiakan cintanya itu lantaran takut.


Ngatijah takut?? Kenapa takut?? Secara hukum, bukankah tidak ada hal yang perlu ditakuti ketika seseorang jatuh cinta?? Tidak !! ia benar-benar takut, ia takut kalau-kalau Budiono tidak merasakan apa yang dirasakannya, Ngatijah takut kalu pucuk dicinta ternyata ulam-nya belum juga tiba, takut-takut kalau Budiono menolaknya, lalu hilanglah harga dirinya, takut kalau ia tidak diterima lagi menjadi teman akrab Budiono, takut Budiono sudah punya kekasih yang sudah dipilih dan dicintainya, takut kehilangan seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman dan ada. Ngatijah tetap menyimpan perasaannya yang semakin lama semakin dalam, ia berharap suatu hari nanti Budiono-lah yang menyampaikan bagaimana perasaanya kepada Ngatijah. "Na'am saraa thayfu man ahwa fa'arraqani, wal hubbu ya'taridhul lazzati bil alami"







Cengkareng 2005
Waktu bergegas, sampai pada akhrnya mereka menyelesaikan pendidikanya di Tambak Beras. Selepas ngaji di pondok, Ngatijah dan Budiono pergi ke arah yang berlainan, Budiono mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Sudan, sedangkan Ngatijah disuruh ayahnya untuk membantu mengajar santri putri di pondok.. Dua hati satu tujuan akhirnya berpisah juga. Dengan berat hati Ngatijah melepas kepergian Budiono, Bandara Cengkareng menjadi saksi bisu perpisahan mereka, Budiono masih mengingat kata-kata terakhir yang diucapkan Ngatijah " Mas!! jangan pernah melupakan aku yo, aku akan selalu mendoakan keberhasilan dan kesuksesan sampean, nanti suatu hari kalau Mas sudah berhasil, aku diajak jalan jalan yo, kita pergi ke gubuk di sawah seperti dahulu untuk melaporkan janji-janji kita pada rumput dan tanaman". Ngatijah terlihat manis jika berbahasa Indonesia.

Setelah Berpisah
Sekalipun mereka saling berjauhan, berpisah selama dua tahun, namun masih tetap berhubungan, dengan saling berkirim-kiriman hadiah yang dititipkan pegawai kedutaan, surat menyurat via e-mail, kirim-kirman foto di friendster, chatingan di Yahoo! Messanger atau sekedar SMS-an, bahkan kadang-kadang kalau punya sedikit rizki Budiono menyempatkan diri untuk menelpon Ngatijah, meskipun tidak bisa bicara lama karena tarifnya mahal, tetapi dengan mendengar suara Budiono sehat, Ngatijah serasa sehat juga, ketika Budiono sakit, Ngatijah pun ikut merasa sakit. Dua hati satu tujuan saling berjauhan dalam batas ruang dan waktu, namun berdekatan di benak rasa dan spirit."Hasbul khaliilaini na'yul ardh, hadza alaiha wa hadza tahtahabaali".

Semenjak berjauhan dengan Ngatijah, Budiono merasa tidak dapat belajar sebaik belajarnya di dekat Ngatijah. Meskipun ia mendapatkan kesempatan belajar yang cukup, namun ia tetap tidak dapat menggunakannya semaksimal mungkin, hari-harinya dipenuhi dengan khayalan-khayalan tentang canda tawa Ngatijah, atap asrama menjadi tempat Budiono menyanyikan lagu-lagu cintanya untuk Ngatijah. Kehilangan Ngatijah benar-benar kehilangan, Budiono serasa meninggalkan nyawanya sendiri.

Ngatijah juga merasakan apa yang dirasakan Budiono, semenjak jauh dari Budiono hari-harinya terasa kosong dan kehilangan gairah. Sajadahnya telah basah dengan air mata untuk Budiono, kalau ada waktu luang Ngatijah masih menyempatkan dirinya untuk mengunjungi sawah, rerumputan, gubuk dan semua tempat dimana mereka menghabiskan waktu bersama dahulu. Ngatijah tak henti-hentinya melantunkan doa untuk orang yang ditunggunya. "Idza niltu minkal wudda, fal maalu hayyinun, wakullu ma 'alat turaabi turaabun".

Khartoum 2008
Sudan menyaksikan pembangunannya yang pesat, jalan-jalan sudah di aspal, jalur kereta trayek Bahri-Omdurman Omdurman-Bahri sudah diresmikan, Para Pengusaha dari luar negeri berdatangan untuk menawarkan barang dagangannya kepada Rakyat Sudan. Gedung-gedung pencakar langit sudah memenuhi jalan Obeid Khatim, disetiap pagi terlihat anak-anak sekolah membawa buku tulis -dulu mereka membawa kayu- beriringan seperti iringan santri tambak beras pergi belajar.

Jalan Syambat di Khartoum Tsani pasti macet, dipenuhi dengan mobil-mobil sedan putih. Kalau siang jalanan sepi dihantam sengatan matahari. Jam 8 pagi di Universitas Internasional Afrika terlihat mahasiswa berlalu-lalang membawa tas dan jas, ada yang berjalan berdua, duduk-duduk di kursi depan kantor, bergurau di kafetaria, dan ada juga yang berdiri dekat dengan barradah (pendingin air) karena disana memang panas. Di keadaan semacam inilah Budiono belajar, selain itu ia juga aktif di berbagai Organisasi, masa muda mahasiswa timur tengah yang indah, sayang dia tidak melewatinya bersama Ngatijah."Alaa laitasy syabaabu ya'udu yauman, faukhbirahu bima fa'alal masyiibu".

Di tengah suasana seperti ini Pemerintahan Sudan di kecam oleh ICC, International Criminal Court, organisasi yang berada dibawah stir Amerika, Uni Eropa dan Israel ini menuduh Umar Hasan Ahmad al-Bashir sebagai penjahat perang, ia diminta untuk menyerahkan diri!!. Sudan menghadapi apa yang Sudan hadapi, Rakyatnya dari alif sampai yaa menolak mentah-mentah tuduhan. Mereka siap perang mempertahankan keutuhan negerinya. Mereka lebih memilih berjihad untuk mempertahankan keutuhan negaranya dari pada tunduk pada Amerika dan antek-aanteknya. "Wa maa yanfa'una nurahhibuhu tarhiban kaamila, wama yukhaalifuna narfudhuhu jumlatan wa tafsiila".

Jombang 2008
Cuaca mendung bergerimis, Stasiun Kereta Jombang sepi, pohon-ponon kelapa bernyanyi-nyanyi, angin bertiup memgeluarkan ritme tak jelas, sepertinya nyanyian-nyanyian kematian yang menuntut penafsiran. Surat Budiono terhenti tanpa sebab, berkali kali Ngatijah mengirim surat, sms dan e-mail tetapi tak satupun terjawab. Ia berulangkali menelpon Budiono, telepon terjawab, tetapi Ngatijah tidak mendengar suara kekasihnya itu, melainkan suara seorang wanita yang mengaku dirinya operator yang setelah berbicara ia membisu."Amin tazakkuri jiiranin bidzi salamin, madzajta dam'an jaraa min muqlatin bidami".

Dimana Budiono? sedang apa dia? apa yang terjadi padanya?? banyak pertanyaan di kepala Ngatijah, 3 tahun sudah Budiono pergi meninggalkannya, selama itu mereka terus berkomunikasi. Tetapi sekarang?? tak ada sepatah kabar tentang Budiono! Ngatijah tetaplah Ngatijah, ia belum punya cukup tabungan untuk pergi menyusul belahan jiwanya nun jauh disana, ia cuma bisa memanjatkan doa disetiap sholatnya, setiap kali ia berusaha untuk tidak menangis justru usahanya itu membuatnya semakin sering menangis, buku-bukunya pun tak pelak lagi dipenuhi bercak bekas tangisan air mata."Laulal hawa lam turiq dam'an 'ala thalalin, wala ariqta lidzikril baani wal alami".

Suatu hari doa Ngatijah terkabul, ada sepucuk surat yang datang dari Sudan, hatinya berbunga bunga, ceria, seolah-olah gelap menjadi terang, pahit menjadi manis, panas menjadi dingin, cemas menjadi tenang, sepertinya surat itu bagaikan air yang menghilangkan dahaga sang musafir kehausan. Dengan hati-hati surat dibuka, setiap gerakan menjadi sangat bermakna. Tiba-tiba Ngatijah tersentak! tersentak? kenapa tersentak??"Kamusaafirin 'atishin syabi'in, qaabidhil maa'i ala yadayhi, fakhaanathu furuujul ashaabi'i".

Ngatijah resah bergundah
Kekasih harapan pergilah sudah

Takdir tuhan bicara sendiri
Bertamu lalu mencuri

Aduhai nasib ya nasib
Takdir dirasa tidak tertib

Budiono pergi menghadap ilahi
Janji Rabbi sudahlah terpenuhi

Indonesian Student called Budiono was killed by disturbance between Sudanese Army and UN army. "Yaa laa'imi fil hawal udzriiyi ma'dz&iratan, minni ilaika walau anshafta lam talumi".

Cerita ini saya buat spesial untuk KH. DR. Muhammad Badrussalam Shof, MEd dari Brebes. Beberapa hari lalu "Calon Istri" beliau ternyata ditakdirkan untuk menikah terlebih dahulu. Mas Badrus Bilang: Mas Miftah, Gimana tuh??? Ya saya jawab aja : Mas Badrus mau digantiin yang lebih baik. amin.

Pada Senin 21 Juli, malam kesenian, pada Acara Berbuka Bersama dan Mengkaji Budaya Sanggar Seni dan Budaya Khartoum Sudan.