Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

MAKNA TERSIRAT DARI SYAWWAL


24 September 2009. Ramadhan 1430 H terasa cepat sekali, sekarang telah pergi meninggalkan kita. Mudah-mudahan Ramadhan dapat menjadi media pendidikan yang berbekas pada diri kita. Amin. Hari ini tanggal 1 syawwal 1430 H. kita duduk bersama dalam satu tempat, berzikir, mengumandangkan takbir, melempar senyum dan rasa bahagia. Kita terseyum menang, setelah sebulan penuh berjuang melawan hawa nafsu.

Meskipun jauh dari tanah air tercinta, tentunya itu tidak mengurangi kegembiraan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Kaya, miskin, hitam, putih, pelajar, pekerja, pelaut, sopir, pedagang dan semua kaum muslimin di seluruh penjuru dunia saat ini bersatu dalam zikir dan syukur. Bibir-bibir yang bergetar dan menggigil dalam takbir. Satu syawwal, hari yang bersejarah, penting, indah, mahal, tidak ditawar, dan merupakan hari yang penuh makna bagi kita selaku muslim tentunya. Sesungguhnya ia hari jati diri manusia yang telah digebleng pada bulan ramadhan.

Marilah kita simak apa itu "Bulan Syawwal''?

Syawwal diambil dari kata “syaala-yasyuulu-syawlan” yang bermakna mengangkat dan terangkat. “Syaala syaian” berarti dia mengambil sesuatu. Dan “Syaala azDzanabu”, ekor itu terangkat. Selendang dinamakan “Syaal” karena terangkat diatas pundak. Unta yang sedang birahi untuk kawin dinamakan “Syaail” karena ekornya selalu diangkat keatas. Si Kuli panggul dinamakan “Syayyaal” karena kerjanya mengangkat barang-barang. Kalau ada pedagang berkata "Syil..!" (angkat itu barang) itu berarti harganya sudah sesuai.

Syawwal adalah bulan kesepuluh dari bulan-bulan Qomariah, yang berada diantara Ramadhan dan Dzilqa’dah; dinamakan Syawwal karena -saat itu- banyak unta yang mengangkat ekornya (musim kawin unta). Dari pemaknaan kata syawwal diatas, ada makna tersirat, bahwa Syawwal jangan hanya bermakna mengangkat; terangkat saja, melainkan, dan tentu, secara luas juga dapat “mengangkat” berbagai kredibilitas dan potensi yang ada pada diri kita masing-masing, baik rohani maupun jasmani.

Momentum Syawwal ini mudah-mudahan dapat memicu diri kita untuk dapat meningkatkan kembali sumber daya manusia. Jika hasil kemarin sedikit, maka esok atau lusa harus meningkat. Jika ada kemenangan yang sempat tertunda, maka biarlah pertimbangkanlah rencana selanjutnya. Jika kita sempat jatuh dalam lumpur, maka jadikanlah itu bahan introspeksi untuk langkah kaki esok hari.

Allah SWT berfirman dalam ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib dari suatu kaum, kecuali mereka sendiri mau mengubahnya“. Artinya, jika mereka mau berusaha untuk merubah nasib dengan meninggalkan hal yang telah membuat mereka jatuh dalam kegagalan lalu menggantinya dengan perbuatan yang lebih produktif, konkrit, efektif, baik, nyata dan terencana. Tentu dalam otoritas kehendak Allah SWT. So, marilah dengan datangnya bulan syawwal ini kita mulai lagi mencari, menambal, memperbaiki, mengangkat, serta introspeksi. Agar tujuan maknanya tidak meleset dari apa yang tersirat dalam kata syawwal.

_________________
( Tulisan ini pernah di terbitkan dalam Buletin Tathwirul Afkar edisi lebaran )