Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

MEMOIRS

“Ya Allah, kembalikan Hari-hari dan ingatkan Cerita-cerita yang terlupa”

Jakarta 2007.

Menurut rencana, komisi fatwa MUI pusat akan mengadakan sidang istimewa. Dalam sepekan akhir ini mereka kerap kali disibukkan dengan berbagai prolematika baru. Sidang kali ini rupanya untuk membahas beberapa persoalan penting itu. Menteri Agama Dr. Ahmad Haikal akan direncanakan hadir untuk membuka sekaligus memberikan sambutan pada acara tersebut, beliau adalah salah satu menteri yang baru dilantik bersama lima menteri lainya pada beberapa bulan lalu. Belasan tokoh ulama dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei juga di undang untuk hadir memberikan partisipasi.

Sesuai rencana, acara besar ini akan dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB
Pagi itu suasananya terasa sangat sejuk, matahari tersenyum-senyum dibalik awan tipis. Tidak terlihat di wajahnya duka yang membebaninya semalam. Dari pucuk pohon rindang ada Burung-burung gereja saling bersaut siul, saling mengingatkan cerita-cerita mereka yang sudah terlupa. Kicauan burung akan terdengar semakin indah manakala ia sedang merasakan kerinduan yang sangat. Pagi itu Udara Kota Jakarta bertiup sepoi-sepoi membawa kabar baik. Pagi yang sangat indah untuk seukuran ibukota, tidak dinikmati oleh mereka yang masih terlelap dalam selimutnya.

Acara berjalan lancar, para tamu undangan berjejal memenuhi kursi-kursi yang di sediakan. Pada sambutannya ”Pak Ekal” panggilan akrab Dr. Ahmad Haikal selaku menteri agama menekankan perlunya sikap bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul. Pak Ekal memang sosok yang menjadi salah satu figur yang paling disegani di tempat itu, sekitar 20 tahun silam, beliau berhasil membawa pulang ijazah Doktoralnya dengan predikat cum laude di Umdurman Islamic University, Sudan, dalam spesialisasi bidang Tafsir. Meskipun berumur 47 tahun, namun beliau belum menikah sampai sekarang.

Hari itu, seusai memberikan sambutannya Pak Ekal tidak terlihat seperti biasanya, beliau sedikit gelisah. Duduk di barisan terdepan para undangan tidak membuat pria itu tenang, Beliau terihat bergerak-gelisah di atas kursinya, seperti sedang mencari hal yang hilang. Pandangannya tertuju ke segala arah di dalam ruangan. Menelusuri setiap jengkal dinding dan lantai. Mencari sesuatu diantara wajah-wajah khusuk. Akhirnya pandangan beliau terhenti ke tempat ibu-ibu, pandangannya terhenti pada seorang perempuan setengah baya yang berbusana anggun. Perempuan itu memakai kerudung putih bercorak bunga krisan merah muda, ia memiliki alis tebal yang biasanya menandakan kesuburan, dan berbibir tipis seperti belahan buah delima masak yang kerap kali menunjukkan kelembutan, seolah-olah memancarkan wibawa yang akan di berikan kepada siapa saja yang di cintainya.

Merasa diperhatikan, perempuan itu menunduk, sesekali dengan hati malunya menyambut pandangan Pak Ekal. Sosok yang kira-kira berusia 40 tahun itu ternyata salah seorang utusan MUI cabang solo, jateng, ia juga ketua dalam organisasi Nahdlatun Nisaa’, sebuah organisasi kemasyarakatan di sana yang bergerak di bidang keagamaan dan pendidikan. Meskipun berumur, tetapi ia masih terlihat sangat anggun.
Pandangan Pak Ekal tak mau lepas darinya, seakan menteri agama itu lupa siapa dirinya dan sedang berada dimana. Seperti pengantin pria yang lupa nama istrinya disaat pelaminan. Ekal mengingat sesuatu dalam pandangannya.

Ternyata sang Ibu juga menyambut pandangan pak Ekal. Dari jauh mereka saling memandang. Pandangannya begitu tajam bak seorang tentara yang menunggu musuh dari balik jerami. Disana ada garis lurus khayal dalam lamun pandangan empat mata tua dan berkacamata, mereka mulai lupa segalanya. Antara Menteri Agama di barisan terdepan dengan Ketua Nahdlatun Nisaa’ sebelah kiri ruangan.

Sepertinya dahulu mereka sudah saling mengenal akrab di masa silam, diantara pandangan keduanya ada rasa ingin mengulang kembali masa-masa muda, masa dimana darah masih berdesir kuat dalam nadi, darah yang berperasaan mau menang sendiri dan begitu sombong. Ya, dari dalam ruangan ternyata mereka mencoba untuk mengingat kembali hari-hari remajanya yang terlupakan, menyusun kembali serakan-serakan terkenang di Khartoum City dan Umdurman. Menyambut salam mentari pagi dengan setumpuk buku di genggaman, akan pergi berangkat kuliah. Menelusuri hari-hari muda mereka yang begitu meletihkan dan berkeringat, hari-hari yang tidak bisa di lukiskan kecuali dengan senyuman dalam lamunan. Dalam pandangan dua insan telah tenggelam, seakan tidak mau untuk terselamatkan lagi.

Terlihat Pak Ekal mengeluarkan air mata, Kemudian disusul si Ibu. Jelas keduanya memiliki jutaan cerita yang ingin dilantunkan dan disimak, cerita muda mereka di atas Jembatan Futihab, cerita dua mahasiswa yang menyebabkan senyuman sebelum tidur malam, antara dua remaja dalam suasana keagamaan, kesopanan, ilmu dan etika……. puluhan tahun silam….. di Sudan.

Sudan 1983.

Banyak mereka yang beranggapan bahwa Sudan dengan Umdurman dan Universitas Afrikanya adalah Markaz Tsaqofah Arobiah, Pusat kebudayaan Arab. dimana Sudan telah menyihir para remaja islam dari seluruh penjuru dunia untuk menjadikan dirinya sebagai tempat pendidikan dan pengalaman, tak aneh jika ribuan pelajar datang ke negeri ini untuk melanjutkan perjalanan ilmiah mereka. Negeri ini begitu indah, meskipun panas, sang mentari pagi selalu setia menyambut mereka yang hendak pergi kuliah, memberikan semangat baru, sore harinya ia akan pamit di ujung sungai Nil membawa beban siang. Mengurangi keletihan belajar. Dimalam hari pun purnama akan muncul bukan karena peraturan alam, melainkan karena kerinduannya pada puncak Jabal Aulia dan lembah di sekitar sungai nil.

Sore itu seharusnya suasana dijalan Syambat masih di penuhi mobil- mobil mereka yang pulang kerja, entah mengapa, sore tidak seperti biasanya. Jalan menjadi lenggang, hanya dilalui beberapa bus kota dan mobil kuno, terkadang kereta himar yang membawa garam dan rumput. Panas matahari masih tersisa di udara.
Ahmad Haikal muda masih terlelap di kursi paling belakang bus yang membawanya ke lembah jalan Wadi nile, ia nampak sangat letih. Di pundaknya ada tas sederhana yang di penuhi berbagai macam kebutuhan Mukhoyyam, ada kasur tipis, selimut, hafadhah kecil, lampu petromak, korek api, makanan ringan dan beberapa buku catatan disertai tiga kitab berbahasa arab. Sore itu Haikal berencana menyendiri, sudah menjadi kebiasaan-nya semenjak tiga tahun lalu untuk menghabiskan malam dengan pepohonan lembah jalan Wadi, mengadukan kerinduan-nya di bawah sinar bulan dan bercerita bersama binatang malam lalu melantunkan nyanyian pujian kebesaran sang Pencipta.

Sampai di tempat tujuan, Haikal segera berkemas dan dengan cepat menyusuri jalan yang menuju lembah. Lembah wadi adalah nama sebuah tempat yang di penuhi dengan pepohonan, terutama kurma, anginnya bertiup segar. Lembah itu sangat indah, di tepiannya mengalir sungai nile. Konon burung-burung diantara rimbunnya pepohonan sana hanya dapat bernyanyi khusus untuk mereka yang sedang jatuh cinta saja. Haikal tidak ingin membuang banyak waktu, untuk sampai di daerah pepohonan yang rimbun, ia harus memotong jalan di sebelah barat lembah, walaupun jalan itu berliku, tapi dari sana ia bisa menghemat waktu setengah jam dan dapat tiba di lokasi sebelum matahari terbenam.

Setelah sampai di lokasi yang agak sepi Haikal segera menyiapkan segala kebutuhannya, matahari hampir tenggelam, ia sengaja mencari tempat sepi yang belum pernah di jamah orang, karena dari sana ia bisa melihat pemandangan yang masih asli, tanpa campur tangan mereka yang serakah dan jahat. Di antara kesibukannya menyusun tempat, Haikal mendengar suara yang memanggilnya tak jauh dari arah belakangnya, ia segera menuju ke sumber suara, ternyata suara itu berasal dari seorang gadis Indonesia yang sepertinya ia kenal, pakaiannya terlihat sedikit compang-camping dan kotor, ia ngos-ngosan, wajahnya bening bagaikan embun pagi yang masih terjebak pada pucuk anggrek.

Haikal memberanikan diri.
Haikal : Assalamu’alaikum!
Gadis : wa’laikumussalam
Haikal : indonisiyah wala thailandiyah?
Gadis : Indo mas!
Haikal : oo, maaf ngapain disini ? dah sore bos?
Gadis : Itu Hp sampean tadi jatuh di kursi bus, kebetulan saya lihat, saya panggil pean ga denger…..
Haikal : Ooooo,, jadi dari tadi situ ngikutin gue? (betawinye keluar)
Gadis : Iya mas! Nih HP nya, awas jangan sampe jatuh lagi!
Haikal : hehe iya mbak, kantong saya cetek sih, oya makasi ya!
Gadis : Sama-sama
Haikal : Maaf ! kalau boleh tahu situ siapa namanya ?
Gadis : Nayla Tsaniah, Mahasiswi Tarbiyah semester 3.
Haikal : Oo… saya Ahmad Haikal, emang mbak ini mau kemana kok satu arah tadi?
Nayla : Saya tinggal di daerah sini mas, kos buat mahasiswi.
Haikal : ooo makasih deh untung ada mbak, kalo gak nomor-nomor rumah
Nayla : Ya sama-sama.

Pembicaraan singkat mereka berakhir karena Adzan magrib. Matahari pun tenggelam di lembah, menutup –sementara- pembicaraan antara dua remaja yang baru saling mengenal ini, pembicaraan antara gadis yang ikhlas menolong dengan pemuda yang HPnya jatuh. Mereka wudhu dengan sebotol air mineral yang dibawa haikal, lalu shalat magrib berjamaah disaksikan mega merah di langit, mereka khusuk dalam sholat dan menikmatinya, ternyata tanpa disadari binatang pun iri hati dengan keduanya (menghayal). Setelah sholat mereka berpisah, Nayla pulang dan Haikal meneruskan Uzlahnya.

Jakarta 2007.

Pak Haikal masih dalam pandangannya ke arah Ibu, para hadirin yang sadar akan tindakan beliau tidak berbuat apa-apa, mereka mengira perempuan itu adalah istrinya. Acara Sidang di hentikan sementara, beliau lalu turun dari kursi dan berjalan ke arah Ibu itu, wajahnya berseri-seri, langkahnya pasti, gerakan tubuhnya sangat meyakinkan, seperti seorang mahasiswa muda yang menyusuri lembah 24 tahun lalu. Si Ibu tetap dalam tundukannya,.. Haikal lupa dengan para hadirin si sekitarnya.

Haikal : Assalamuailaikum !!
Ibu : Wa’alaikumussalam
Haikal : Benarkah dugaan saya? Saya sangat bersyukur ternyata Allah SWT berkenan mempertemukan kita kembali, sudah lama saya tidak mendengar kabar anda…saya masih mengingat 20 tahun lalu ketika anda mengembalikan HP saya di Lembah Wadi
Ibu : Saya juga senang kita bertemu disini, waktu itu kenapa gak Tanya no HP saya?
Haikal : Itu dia yang saya lupa bu! Tapi doa tulus akan selalu ada, meski tak terucap lidah, gimana anda sudah berkeluarga dan tinggal dimana?

Sang Ibu tertunduk, dalam tundukannya tersenyum, dalam senyuman-nya terpesona, lalu mengangkat wajahnya, dan memandang Pak Haikal, tetapi, tetapi, tetapi tiba-tiba ada suara yang berteriak di telinga Pak Haikal, ” woooiii bangun bangun,!!! kuliah!! Mau dighoib lagi loe???”.Itu suara Fachrul Faradillah, teman kuliah satu fakultas…..Haikal terbangun dari tidurnya.

Remaja- remaji, muda-mudi, putra-putri, siswa-siswi yang selalu ketawa-ketiwi dan obrolannya tentang hati. (Maret 2007)