Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

NOTA HUSNI MUBAROK DAN AIR SUNGAI NILE YANG BANJIR

Kemarin tepatnya tanggal 20 Agustus 2010 Presiden Republik Mesir Husni Mubarok mengeluarkan nota yang isinya menyangkut permasalahan pengelolaan Air Sungai Nile Pasca Kesepakatan "Ettenbe" di Uganda yang didatangani oleh empat dari tujuh Negara-negara Sumber Nile yaitu; Etihopia, Uganda, Tanzania dan Rwanda. Kesepakan itu berbicara tentang pengeloalaan air, batas dan isi yang dikandung sungai Nile. Memang telah ada kesepakatan tahun 1929 namun hanya antara Mesir dan Inggris saja.

Nile selain berperan sebagai Sumber Daya Alam melimpah di timur tengah ia juga tidak lepas dari permasalahan-permasalahan, mengingat adanya Negara Sumber Nile yang merasa dirugikan pada haknya, maka kesepakatan itu perlu di tinjau kembali. Begitulah kurang lebih ceritanya.

Nota Pak Husni tadi diterjemahkan oleh DR. Nashruddin Allam Menteri Pengairan Sumber daya Air Mesir melalui Dialog dengan Pemerintah Sudan salah satu dari Negara-negara Sungai Nile yang sama-sama tidak "diajak" dalam kesepakatan Ettenbe. Yang jelas Mesir dan Sudan akan menolak kesepakatan. Namun belum ditentukan kapan waktu dan dimana tempat dialognya. Untuk DR. Kamal Ali harus siap-siap untuk ikut rapat.

Yang tadi Cerita Politik. Marilah kita menuju Sungai Nile. Kurang lebih dua minggu lalu Nile Banjir Bandang. Sejak tahun 2006 Nile belum pernah banjir seperti sekarang. Biasanya banjir paling-paling mencapai satu meter saja diatas batas normal Namun kali ini dapat mencapai 3 meter atau lebih, karena air sudah mencapai pembatas Nile di depan Istana Negara yang tingginya ±5 meter. Pepohonan Rimbun diantara Jembatan Futihab lenyap ditelan air. Bahkan sawah-sawah disamping Akademi Militer Omdurman habis terendam air. Yang jelas banjirnya tidak seperti biasa.

Timbul pertanyaan, ini peringatan dari Sungai Nile? Atau memang gejala Alam biasa?