Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Shock Therapy

Shock Therapy, yeaaiy…. mungkin 2 kata ini yang lately sering dialami…. Kadang di rumah, di kantor apalagi…. Hampir setiap hari ! ^_^.
Apalagi ketika menyampaikan sesuatu yang kita anggap benar, tak jarang kita terbawa emosi, utamanya saat menemui perbedaan pendapat.  Bahkan terkadang, kebaikan yang hendak kita sampaikan jadi tertutup oleh cara kita yang kurang baik dalam menyampaikannya.. bikin Shock Therapy.. HHffff…
Dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr kita memang diajarkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali jika ia beriman, beramal saleh, dan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”. 

Jadi memang sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling mengingatkan, mengajak pada kebaikan dan menasihati untuk menjauhi kemungkaran.
Namun mengingatkan untuk mengajak pada kebaikan ini yang menjadi challenge buat kita.
Pasti pernah kan merasa bahwa apa yang kita sampaikan kepada seseorang tidak mampu terserap dengan sempurna? hanya diserap sebagian saja, seakan sebagian yang lain tercecer entah dimana. Atau malah lebih buruk, apa yang keluar dari mulut kita seakan tidak pernah sedikitpun sampai di telinganya.. Bikin shock therapy untuk kita yg ingin mengingatkan…
Atauuu…. Malah sebaliknya saat kita mendapat peringatan dari orang lain (yang mungkin niat dia baik, orangnya pun baik hati) tapi caranya menyampaikan peringatan tsb ngebentak atau kasar, bikin shock therapy… Jadinya orang yang diingatkan malah tersinggung atau salah paham. Akhirnya penyampaian yang harusnya baik itu tidak mencapai sasaran.
So…Ujung-ujungnya yang harus jadi perhatian kita adalah “cara penyampaian” agar tidak terkesan keras, kasar, menghina, atau bahkan sampai bernada merendahkan serta memojokkan orang yang kita nasihati. Kalau sudah begini tidak hanya menyakiti hati, tapi juga menciptakan rasa permusuhan dan antipati dari orang yang mendengarnya.  Dan akhirnya, jangankan isi nasihat kita tersampaikan, kita justru akan dijauhi dan kehilangan kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Yeap, Pada dasarnya semua orang senang bila ia menerima penyampaian tentang sesuatu hal dengan cara yang baik. Tidak ada orang yang suka bila dibentak, atau menerima perkataan kasar. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa dengan legowo menerima sebuah penyampaian yang terkesan menyudutkan atau menyalahkan.
Walaupun memang ada kalanya penyampaian itu lebih efektif bila disampaikan dalam bentuk shock theraphy. Ketika si penerima telah begitu kukuh dengan dirinya sendiri, tidak mau berusaha mendengar pendapat orang lain, maka shock theraphy bisa jadi satu solusi yang tepat. Namun hal itu dilakukan dengan betul-betul mempertimbangkan segala sisi. Karena mungkin saja “harga” yang harus kita bayar akibat cara penyampaian dengan shock theraphy ini akan jauh lebih besar dari manfaat penerimaan yang kita harapkan.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:
"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125).
Rasulullah SAW bersabda:Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.(HR.Muslim).

Kadang kita lupa bahwa kebenaran bukan hanya milik kita. Bahwa setiap orang memiliki tingkat pengetahuan, pemahaman, dan sudut pandang yang berbeda.  Apa yang menurut kita benar, belum tentu benar bagi orang lain, begitu juga sebaliknya, sedangkan pengetahuan kita pun sangat terbatas untuk bisa merasa sebagai yang paling benar.  Karenanya, untuk membantu orang lain menerima nasihat baik dari kita, tentu diperlukan cara yang baik pula, sehingga terjalin komunikasi yang baik.

Perlu kita ingat, bahwa bukan hak kita untuk menghakimi, bukan kewajiban kita juga untuk mengubah seseorang. Tugas kita hanyalah saling mengingatkan, sejauh yang kita ketahui, dengan penuh kesabaran dan cara yang lembut.

Rasulullah SAW pernah berpesan pada ‘Aisyah ra.: Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan, Allah mencintai kelembutan dan menciptakan banyak kebaikan untuk menyertainya.  Maka berilah kemudahan ketika menasihati, dan lakukanlah dengan penuh kasih sayang serta kelembutan.

Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat (dengan manusia), lemah lembut, lagi memudahkan.” (HR. Tirmidzi).

Seorang muslim dalam pandangan Rasulullah adalah mereka yang beradab, santun, dan bertabiat lembut. Suci hatinya, lembut perbuatan dan sikapnya.
Yuk, mari kita sama-sama belajar menyampaikan sesuatu dengan harap kebaikan pada diri orang lain, karena akan menjadi investasi amalan kita juga di hari perhitungan kelak. Apalagi bila yang kita sampaikan itu dijalankan secara konsisten oleh penerimanya, tentu investasi amal kita juga akan semakin bertambah.

Oleh karenanya, jangan sia-siakan nilai investasi itu hanya karena kurang tepatnya kita dalam proses penyampaiannya apalagi sampai bikin shock therapy. Mari berusaha lebih bijak dalam penyampaian, sambil terus memperbaiki diri agar potret diri menjadi lebih baik. Tidak hanya baik di mata manusia, namun jauh lebih penting dalam pandangan Allah Swt. Semoga….. Amiiinn.