Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

REFLEKSI MAULID NABI : MEMBANGUN DAN MEMBINA HUBUNGAN BAIK*



Khartoum, 9 Februari 2012. Pembaca, seminggu yang lalu sisi kemanusiaan kita dikagetkan dengan kerusuhan yang terjadi di “Khausyul Kholifah” atau yang kita kenal akrab dengan Lapangan Perayaan Maulid di Umdurman, bentrokan terjadi antara Jama’ah Anshor Sunnah dengan Sufi hingga menyebabkan korban luka dan tempat itu ditutup sementara oleh pihak yang berwajib. Ini adalah sikap terorisme. Kemarin pagi kita baca juga di Surat Kabar bahwa Gubernur Khartoum sudah memberikan instruksi untuk investigasi kasus dan mencari pihak-pihak yang diduga kuat menyulut kerusuhan, fitnah serta adu domba.

Pasca berpisahnya Selatan, tanah ratauan kita ini dihantam dari segi Perekonomiannya, Barang-barang kebutuhan menjadi mahal, Demonstrasi dimana-mana, Perang Sahabat, Baku Tembak dan gesekan-gesekan lainnya masih sering terjadi. Itupun kita belum lagi berbicara tentang kerusuhan di Timur tengah; Tunisia, Mesir, Yaman, Libya serta Suriah yang telah menelan korban ratusan atau bahkan ribuan orang.

Fenomena-fenomena ini disadari atau tidak, telah terjadi di tengah-tengah kaum Muslimin dan di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim. Yang mengejar ucapannya “Allohu Akbar!” lalu yang dikejar membalas “Laa ilaha illAllah”.

Ini semua tentu saja, apalagi Sikap Terorisme dan Perang Sahabat, sangat mencorat-coreti nama baik Islam. Mengapa? Diduga kuat karena belum adanya kesadaran penuh akan ajaran-ajaran luhur yang diperintahkan Islam, kurangnya memaknai, menghayati serta merefleksikannya di dalam kehidupan sehari hari, atau mungkin karena minimnya pengetahuan, gelapnya tujuan-tujuan mulia Islam atau melintirnya pemahaman akan ajaran-ajarannya. Hal-hal semacam inilah yang membuat Umat lemah dan bercerai-berai sehingga mudah dipatahkan dan diadu domba.

Untuk itu pembaca yang budiman, dengan momentum Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan Peringatan Harlah NU ke-86 ini, marilah kita hayati kembali nilai-nilai agama, ajaran-ajaran, serta keteladanan yang dibawa Rosululloh SAW, tentang perintah kejujuran, amanah, kasih sayang, saling menghormati, giat belajar, bekerja, ikhlas beramal dll. Agar kita menjadi sebuah Umat yang bersatu, bermutu, kuat dan kreatif, kompak bersapu-lidi, sehingga terciptalah sebuah persatuan kesatuan.

Bukankah Rosululloh SAW berhasil menyatukan pandangan Muhajirin dengan Anshar? Beliau juga berhasil membangun dan membina hubungan internal di Kota Madinah, hubungan antara kaum muslimin dengan tetangganya yang beragama Yahudi dan Nasrani atau sebaliknya, semuanya diatur dengan baik dan adil. Inilah yang harus kita teladani.

Jika kita baca Sejarah Nabi semenjak beliau diutus menjadi Rasul hingga wafatnya, terkesanlah pelajaran-pelajaran darinya, tentang sebab-sebab kesuksesan beliau dalam membangun dan membina Umat, baik antara kaum muslimin dengan muslimin, ataupun dengan non muslim. Keberhasilan itu dapatlah kita tekankan dengan pembangunan dan pembinaan tiga macam Ukhuwwah sebagai berikut :

1.    Ukhuwwah Imaniyah (Hubungan Seiman).

Ini adalah hubungan yang paling mendasar, seorang mukmin dilarang untuk melukai mukmin lain karena “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara kedua Saudara kalian dan bertakwalah kepada Alloh agar kalian menjadi orang-orang yang mendapatkan rahmat” (QS 49:10).

Perbedaan pendapat dan pandangan adalah hal yang lazim terjadi, namun hal itu jangan sampai menyulut api permusuhan sesama Umat Islam yang hanya akan membuang waktu percuma serta menguras energi untuk sesuatu yang tidak penting, seharusnya dimanfaatkan untuk berfikir, berkreatifitas dan bekerja demi kemajuan dan kemaslahatan.

Periksalah surat al hujuroh ayat 11 dalam membangun persaudaraan seiman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. seburuk-buruknya gelar adalah kefasikan sesudah keimanan dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

2.    Ukhuwwah Insaniyah  (Hubungan Sesama Manusia).

Saat Haji Wada’ Rasulolloh SAW berkhotbah di depan jutaan manusia ketika hari Wuquf di Padang Arafah : “Wahai manusia! sesungguhnya nyawa, harta dan kehormatan kalian adalah Suci terpelihara, seperti sucinya hari wukuf ini, di bulan haji dan negeri  ini.”

Inilah deklarasi Hak Asasi Manusia; tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Selama makhluk itu benama manusia, maka nyawa, harta, dan kehormatannya terlindungi. Islam tidak mengenal bahkan melarang terorisme, pembunuhan,  ekstremisme, sikap berlebihan, berpaham sempit, kaku, dan keras apalagi sampai menyebabkan tercorengnya hak asasi manusia sebagaimana telah terjadi. Islam sangat menghormati nyawa, harta, kehormatan dan martabat manusia.

Sikap ekstrim dan berfaham sempit sudah ada sejak zaman Rosululloh SAW. Suatu ketika disaat beliau membagi-bagikan harta perang Hunain, Sahabat yang senior tidak dikasih, hanya mualaf saja yang mendapatkan jatah, walaupun mualaf tersebut sudah kaya seperti Sahabat Abu Sufyan yang pada waktu itu baru masuk Islam dan mendapatkan seratus ekor onta. Sekonyong-koyong datanglah seseorang yang bernama Dzul Khuaisirah ke hadapan Rasulullah SAW dan berkata “Berbuatlah adillah wahai Muhammad!”.Mendengar perkataan ini Sayyidina Umar RA naik pitam “Bagaimana kalau saya bunuh?”. Nabi diam.

Setelah orang itu pergi beliau menjawab “Nauzubillah! Apa jadinya jika orang-orang nanti mengatakan bahwa Aku membunuh sahabat-sahabatku sendiri? Akan muncul dari keturunan orang ini kaum yang membaca Quran hanya sebatas tenggorokan mereka saja, mereka meleset dari agama sebagaimana anak panah yang meleset dari binantang buruannya”. Padahal maksud Nabi adalah agar orang-orang yang baru masuk islam itu menjadi kuat islamnya, dan kaumnya ikut masuk islam. Hal itupun terbukti.

3.    Ukhuwwah Wathoniyah  (Hubungan Sebangsa-Setanah Air).

Adalah kesadaran persaudaraan satu nusa satu bangsa dan satu bahasa. Baik muslim ataupun tidak, selama masih berada dalam negara yang sama dan selama tidak mengusik Akidah, haruslah kita menghormati hak-hak mereka dalam menjalankan ibadahnya masing masing.

Periksalah sejarah bagaimana Rasulullah sukses membangun masyarakat di Kota Madinah, beliau berhasil menyatukan pandangan penduduk Yatsrib yang terdiri dari banyak etnis dan suku, yaitu Pendatang, Pribumi; suku Aus dan Khazraj, dan Yahudi; Bani Qainuqa’, Bani Nadzir, Bani Quraidzah.

lihatlah Piagam Madinah yang mengatakan “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Piagam ini dari Nabi Muhammad saw, yang berlaku bagi Kaum Mukminin dan Muslimin dari Bangsa Quraisy dan Yatsrib serta kelompok-kelompok yang turut berkerja sama dan berjuang bersama-sama mereka, bahwa mereka adalah bangsa yang satu...”

Semua golongan mendapatkan haknya, terlindungi harta jiwanya, keamanan, keadilan dari pemerintahan yang dijalankan Rosululloh SAW. Bagi yang berkhianat beliau sangat tegas dan tidak lalai. Keseriusan Nabi dalam menjalankan isi Piagam Madinah terbukti dengan beberapa hal :

1.    Suatu ketika ada seorang muslim membunuh Yahudi, Nabi pun marah besar. Beliau mengumpulkan dana untuk Ahli Waris Yahudi tersebut, dan Nabi bersebda “Barang siapa membunuh non muslim maka dia akan berhadapan denganku!”
2.    Suatu ketika ada jenazah lewat, Rasululloh pun berdiri. Sahabat berkata, “Itu tadi yang lewat jenazah orang Yahudi!”. Rosul menjawab, “Bukankah dia nyawa manusia juga?
3.  Suatu ketika Usamah bin Zaid bin Harisah menangkap maling perempuan yang berasal dari keluarga terhormat Bani Makhzum (red.). Karena melihat latar belakang wanita tersebut, Sahabat Usamah bermaksud membebaskannya. Mengetahuai keinginan Usamah itu Rasulullah marah dan memperingatkan “Demi Allah wahai Usamah! andaikan Fatimah anakku sendiri mencuri, niscaya aku akan potong tangannya!”.

Pembaca, untuk itu dengan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan Peringatan Harlah NU ke-86 ini, marilah kita hayati kembali nilai nilai agama, ajaran-ajaran, serta keteladanan yang dibawa Rosululloh SAW dengan membina tiga macam hubungan ini.




___________________________________________


* Buletin al-Hijrah Edisi Maulid Nabi dan Harlah NU ke 86, di KBRI Khartoum, Sudan.