Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Mengenal Karakteristik Ekonomi Islam

Mengenal Karakteristik Ekonomi Islam

Ekonomi Islam merupakan sebuah cabang ilmu yang memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan disiplin ilmu lainnya. Dengan demikian mempelajari tentang karakteristik tersebut merupakan hal yang penting bagi kita semua, supaya kita bisa membedakan antara karakteristik yang ada dalam ekonomi Islam dengan karakteristik yang dimiliki oleh ilmu ekonomi konvensional. Berikut beberapa karakteristik ilmu ekonomi Islam:

A. Karakteristik Ekonomi Islam yang Menyangkut dengan Akidah, Akhlak, dan Hukum (Muamalah)

1. Harta Kepunyaan Allah dan Manusia Khalifah Harta

Semua harta, baik benda maupun alat produksi adalah milik (kepunyaan Allah). Dalam perspektif ekonomi Islam memandang harta tersebut hanyalah sebagai titipan dari Allah yang harus dijaga dengan baik, tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah. Harta yang telah Allah titipkan kepada kita diharapkan dapat kita pergunakan di jalan-Nya, untuk beribadah, membantu sesama manusia, dan hal-hal yang bermanfaat lainnya. Allah telah berfirman yang artinya:

"Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. Al-Baqarah/2: 284)

Kemudian Allah juga berfirman dalam surah Al-Maidah/5: 17 yang artinya:

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putra Maryam." Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ekonomi terikat dengan akidah, syariah (hukum) dan moral. Segala aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh manusia haruslah bernilai ibadah, tidak boleh adanya unsur-unsur yang berbau maksiat. Karena Allah telah memberikan berbagai macam rahmat kepada kita yang dengan rahmat itu kita dapat hidup dan bekerja di dunia ini. Begitu juga dengan aktivitas ekonomi yang kita lakukan dengan jalan mengharapkan ridha Allah, sudah pasti Allah akan membalas semua perbuatan baik kita.

Dalam perspektif ekonomi Islam, harta yang kita miliki tersebut tidak sepenuhnya miliki kita, akantetapi terdapat hak orang lain yang harus kita berikan, dan juga cara kita memperoleh harta haruslah dengan jalan yang halal, bukan dengan jalan yang haram (batil). Berikut firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dengan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." (QS. At-Taubah/9: 34) 


2. Keseimbangan antara Keruhanian dan Kebendaan

Tak hanya dalam ekonomi Islam, dalam berbagai bidang pun keseimbangan menjadi hal utama yang harus dimiliki. Jika keseimbangan ini sudah tiada maka sudah dapat dipastikan akan berujung dengan permasalahan dan kehancuran.

Dalam ekonomi Islam, benda yang dimiliki oleh setiap orang harus seimbang dengan nilai-nilai keagamaan agar tidak terjadi ketimpangan dan penyimpangan dalam hal memanfaatkan harta benda tersebut. Harta yang banyak belum tentu akan berujung pada puncak kebahagiaan jika kita tidak tau cara mempergunakannya dan tidak diiringi dengan pedoman serta nasihat agama.


3. Keadilan dan Keseimbangan dalam Melindungi Kepentingan Individu dan Masyarakat

Keadilan dan keseimbangan merupakan hal terpenting dalam menjaga hubungan dengan masyarakat dan berbuat baik pada diri sendiri. Tanpa adanya keadilan dan keseimbangan semua akan berantakan serta berujung pada perpisahan dan kekacauan. Keadilan di sini bukan berarti harus dibagi sama, akan tetapi lebih kepada memberikan sesuatu sesuai haknya dan sesuai tempatnya agar tidak menzalimi sebagian pihak. Sebelum keadilan bisa diterapkan dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat maka segala bentuk permasalahan akan sukar untuk diselesaikan.


4. Bimbingan Konsumsi

Setelah Allah memberikan harta benda kepada manusia, Allah juga membimbing manusia agar mempergunakan harta tersebut dengan cara yang benar. Berikut firman Allah:

"Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-'Araf/7: 31)

Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan kepada manusia agar tidak menggunakan harta dengan cara yang boros (berlebih-lebihan), karena sesuatu yang berlebihan akan mendatangkan keburukan dan penyesalan. Tak hanya itu, berlebih-lebihan juga akan menjerumuskan manusia ke dalam perangkap syaitan, yang mana syaitan ini merupakan musuh nyata bagi manusia.

Allah tidak melarang kita untuk memanfaatkan dan menggunakan harta yang diberi-Nya, kita hanya dituntut untuk menggunakan harta secara bijak agar harta yang kita miliki dapat memberikan manfaat bagi kita sendiri dan masyarakat. Menghindari sifat boros di sini bukan berarti kita harus menahan harta dan bersikap kikir, selain tidak boros kita juga dituntut agar tidak kikir. Allah berfirman:

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS. Al-Isra'/17: 16)


5. Petunjuk Investasi

Dalam ekonomi Islam, setiap investasi tersebut harus sesuai dengan aturan yang ada dalam Islam, artinya yaitu adanya batasan-batasan tertentu dalam hal investasi, diantaranya harta yang kita miliki tidak boleh diinvestasikan kepada bidang-bidang yang diharamkan. Contohnya: Menginvestasikan uang/barang pada perusahaan yang memproduksi minuman keras atau memproduksi makanan yang mengandung zat babi serta zat-zat yang berbahaya lainnya.

Semua harta yang kita miliki diharapkan agar dapat kita investasikan pada hal-hal yang bermanfaat, agar investasi yang kita lakukan tidak hanya terbatas pada pencapaian kepuasan dunia, akan tetapi juga berorientasi pada pencapaian kebahagiaan akhirat.


6. Zakat

Zakat merupakan harta yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan ketika telah sampai pada nisabnya. Zakat ini berbeda dengan pemberian pada umumnya, di mana zakat sudah dijelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerimanya. Orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat akan dimurkai oleh Allah. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengambil zakat pada orang-orang yang memiliki kelebihan harta dan telah sampai pada nisabnya. Berikut firman Allah:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah ayat 103)


7. Larangan Riba

Berbeda dengan ekonomi konvensional yang memandang bunga sebagai keuntungan, sedangkan dalam ekonomi Islam bunga tersebut dikategorikan ke dalam riba, yang mana riba tersebut dilarang dalam Islam. Dalam Al-Quran terdapat beberapa tahap mengenai pelarangan riba, berikut tahapan-tahapannya:

a. Menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada lahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekatkan diri kepada Allah.

"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah, dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (QS. Ar-Rum (30) ayat 39)

b. Riba digambarkan sebagai sesuatu yang buruk, dan ancaman Allah terhadap orang-orang yang memakan riba.

"Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya dan karena mereka memakan harta orang-orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (QS. An-Nisa ayat 160-161)

c. Riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan." (QS. Ali-Imran ayat 130)

d. Allah dengan jelas dan tegas mengharamkan apa pun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." (QS. Al-Baqarah ayat 278-379)


B. Karakteristik Ekonomi Islam dalam hal Operasional yang Berbeda dengan Sistem Kapitalis dan Sosialis

1. Dialektika Nilai-nilai Spiritualisme dan Materialisme

Ekonomi Islam sangat erat kaitannya dengan akhlak atau spiritual, artinya dalam aktivitas ekonomi tidak sepenuhnya untuk mencari kepuasan/keuntungan semata. Akan tetapi juga mengejar kemenangan akhirat dengan jalan beribadah kepada Allah dalam setiap gerakan atau aktivitas.

2. Kebebasan Berekonomi

Islam memberikan kebebasan dalam berekonomi, namun kebebasan berekonomi dalam Islam bukanlah kebebasan yang mutlak, ada batasan-batasan tertentu yang harus dipatuhi oleh setiap pelaku ekonomi, seperti tidak menjual barang haram, barang berbahaya, dan hal-hal lain yang berbau maksiat.

3. Dualisme Kepemilikan

Dalam ekonomi Islam, harta merupakan milik Allah sepenuhnya, manusia hanya diperbolehkan untuk menggunakan sebatas titipan, tidak boleh menggunakan harta yang Allah titipkan untuk berbuat kerusakan di muka bumi, merugikan diri sendiri dan orang lain. Islam juga mengakui akan adanya harta milik pribadi dan milik publik.

4. Menjaga Kemaslahatan Individu dan Bersama

Setiap aktivitas ekonomi harus dinilai apakah memberikan kebaikan (kemaslahatan) bagi kita dan masyarakat banyak atau tidak. Jika tidak, maka sudah sepatutnya aktivitas tersebut ditinggalkan agar tidak bertambah masalah dan memberikan kemudharatan bagi diri sendiri dan masyarakat banyak.

Pendistribusian harta kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan merupakan cara yang baik untuk menjaga kemaslahatan individu dan bersama. Serta berbuat baik kepada semua orang dan menasihati yang berbuat salah serta mendukung orang-orang yang berbuat kebaikan.


Daftar Pustaka:

Nurul Huda, dkk. 2008. Ekonomi Makro Islam (Pendekatan Teoritis). Jakarta: Kencana

Prof. Dr. H. Idri, M.Ag. 2015. Hadis Ekonomi (Ekonomi dalam Perspektif Hadis Nabi). Jakarta: Prenamedia Group