Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Ragam Penjelasan Mengenai Musyarakah

Penjelasan Tuntas Mengenai Akad Musyarakah

Daftar Isi:
  1. Pengertian Akad Musyarakah
  2. Musyarakah dalam Aplikasi Perbankan Syariah
  3. Pembiayaan Proyek
  4. Modal Ventura (Penanaman Modal)
  5. Ketentuan Akad Musyarakah
  6. Jenis Pembiayaan Musyarakah
  7. Musyarakah Pemilikan (Syirika Al-Milk)
  8. Musyarakah Akad (Syirikah Al-Uqud)
  9. Syirikah Abdan
  10. Syirikah Wujuh
  11. Syirikah Muwafadah
  12. Risiko Akad Musyarakah
  13. Prinsip Dasar Musyarakah
  14. Rukun dan Syarat akad Musyarakah
  15. Rukun-rukun Akad Musyarakah
  16. Syarat-syarat Akad Musyarakah
  17. Dasar Hukum Musyarakah
  18. Dasar Hukum Musyarakah yang Bersumber dari Al-Qur'an
  19. Dasar Hukum Musyarakah yang Bersumber dari Hadis

1. Pengertian Akad Musyarakah


Musyarakah adalah sebuah akad kerjasama di mana para pihak yang melakukan akad sama-sama menyetorkan modalnya untuk menjalankan sebuah usaha. Semua pemilik modal berhak untuk berpartisipasi dalam hal menentukan kebijakan usaha yang dilaksanakan oleh pihak pelaksana usaha (Erni Susana, 2009).


2. Musyarakah dalam Aplikasi Perbankan Syariah


Dalam hal pengaplikasiannya pada perbankan syariah, akad musyarakah dapat berupa (Muhammad Yusuf, 2012):

1) Pembiayaan Proyek


Dalam kegiatan pembiayaan proyek ini Bank Syariah bekerjasama dengan nasabahnya untuk menyediakan dana, selanjutnya dana yang telah disediakan akan digunakan untuk membiayai proyek. Disaat proyek yang dibiayai tersebut telah selesai maka nasabah akan mengembalikan uang yang diberikan oleh bank (dana yang dibiayai bank untuk pembangunan proyek) beserta bagi hasil yang telah mereka sepakati pada saat akad tersebut disetujui (ijab qabul).

2) Modal Ventura (Penanaman Modal)


Kegiatan ini dilakukan oleh pihak bank dalam jangka waktu tertentu, setelah jangka waktu tersebut berakhir, maka bank akan menjual sahamnya (modal dalam bentuk saham) kepada pihak yang memegang saham perusahaan.

3. Ketentuan Akad Musyarakah


Pihak yang memiliki modal dan dipercaya untuk menjalankan usaha musyarakah harus mematuhi beberapa ketentuan, antara lain (Erni Susana, 2009):

a. Tidak mencampurkan antara dana pribadi dengan dana usaha musyarakah.

b. Tidak bekerjasama dengan pihak lain dalam hal menjalankan usaha musyarakah tanpa seizin pemilik dana musyarakah.

b. Tidak menggunakan dana usaha musyarakah untuk memberikan pinjaman kepada pihak lain.

d. Pemilik modal yang menarik diri dari usaha musyarakah (kerjasama) dianggap telah mengakhiri kerjasama.

e. Meninggal dunia dan tidak cakap hukum juga akan membuat pihak tersebut keluar dari usaha musyarakah.

f. Semua biaya yang dikeluarkan dan jangka waktu usaha musyarakah harus diketahui oleh semua pihak dan apabila ada keuntungan, maka keuntungan tersebut harus dibagi sesuai kesepakatan, serta apabila ada kerugian maka kerugian tersebut harus dibagi berdasarkan banyaknya jumlah modal yang disetor oleh masing-masing pihak.

4. Jenis Pembiayaan Musyarakah


Pembiayaan musyarakah terbagi kepada dua jenis, yaitu (Navadila Frurizka Susanto, Jenny Morasa, dan Heince R.N Wokas, 2017):

1) Musyarakah Pemilikan (Syirika Al-Milk)


Musyarakah ini tercipta karena adanya warisan, wasiat, ataupun kondisi lainnya yang menjadikan aset tersebut dimiliki oleh dua orang atau lebih. Musyarakah kepemilikan ini sering diistilahkan dengan kepemilikan bersama (co-ownership), jika dua orang atau lebih mendapatkan kepemilikan bersama disebut joint ownership atau kekayaan terhadap sebuah aset. Selama harta yang dimiliki secara bersama tersebut belum dibagi-bagi, maka setiap adanya hasil dari pengelolaan harta tersebut harus dibagikan sesuai dengan hak masing-masing pihak yang bekerja sama. Selanjutnya, dalam hal mempertahankan keberlanjutan kerja sama, setiap proses pengambilan keputusan harus diketahui dan disetujui oleh semua pihak.


2) Musyarakah Akad (Syirikah Al-Uqud)


Musyarakah akad merupakan jenis kemitraan yang terbentuk karena adanya kesepakatan di antara dua belah pihak atau lebih untuk saling bekerja sama dalam hal mewujudkan tujuan tertentu. Setiap pihak yang bermitra sepakat untuk memberikan modal dan sepakat untuk berbagi keuntungan serta kerugian yang diperoleh dari pengelolaan modal musyarakah. Setiap mitra memberikan kontribusi yang berupa dana kerja dan berbagai keuntungan serta kerugian, yang terbagi atas:

a. Syirikah Abdan


Syirikah Abdan adalah kerja sama yang dilakukan oleh para pekerja atau tenaga profesional dalam hal menyelesaikan suatu pekerjaan serta berbagai penghasilan yang akan didapatkan.

b. Syirikah Wujuh


Syirikah Wujuh adalah kerja sama yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki reputasi dan prestise baik dalam mengelola bisnis.

c. Syirikah Muwafadah


Syirikah Muwafadah adalah kerja sama yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki latar belakang sama (posisi dan komposisi pihak-pihak), baik itu pekerjaan, agama, keuntungan, modal, dan kerugian harus ditanggung secara bersama.

5. Risiko Akad Musyarakah


Sama seperti halnya pembiayaan pada umumnya, pembiayaan dengan skema musyarakah juga memiliki risiko, berikut risiko yang mungkin terjadi dalam pembiayaan dengan skema musyarakah (Dheni Mahardika Saputra, Zainul Arifin, dan Zahroh, 2015):

a. Pihak yang dibiayai oleh suatu lembaga tidak menggunakan dana tersebut kepada tempat yang telah ditentukan (diperjanjikan) di awal akad, sehingga dana tersebut tidak produktif.

b. Pihak yang dibiayai lalai dalam menjalankan tugasnya dan sering melakukan kesalahan yang disengaja, sehingga mengakibatkan kerugian dalam usaha yang dikelolanya.

c. Informasi mengenai keuntungan tidak disajikan secara benar dan lengkap (tidak jujur dalam memberikan informasi).

6. Prinsip Dasar Musyarakah


Supaya sesuai dengan norma dan aturan Islam, maka harus diterapkan lima unsur keagamaan berikut ini (Abdul Aziz):

a. Tidak adanya bunga dalam setiap transaksi keuangan yang dilakukan.

b. Kegiatan memberikan zakat, sedekah, dan pemberian lainnya yang telah diajarkan oleh agama Islam.

c. Setiap produksi yang dilakukan oleh pelaku bisnis harus sesuai dengan aturan syariah, tidak diperbolehkan untuk memproduksi barang haram.

d. Menghindari kegiatan perjudian (maysir), dan ketidakjelasan dalam transaksi (gharar).

e. Mempersiapkan takaful (asuransi Islam).

7. Rukun dan Syarat akad Musyarakah


1) Rukun-rukun Akad Musyarakah


Menurut mayoritas ulama, rukun syirkah ada tiga, yaitu (Putri Kamilatur Rohmi, 2015):

a) Aqidani (dua pihak yang berakad)
b) Ijab Qabul (ucapan serah terima yang dilakukan oleh pihak yang berakad)
c) Ma'qud Alaih (barang yang diakadkan)

2) Syarat-syarat Akad Musyarakah


Menurut Idris Ahmad, 1969: 66, syarat-syarat akad musyarakah adalah sebagai berikut (Mahmudatus Sa'diyah dan Nur Aziroh, 2014):

a) Pihak yang bermitra harus mengungkapkan izinnya masing-masing terkait dengan pengelolaan harta musyarakah, yang akan dikelola oleh pihak yang dipercaya untuk mengelolanya.

b) Setiap mitra harus saling percaya antara satu sama lain, karena masing-masing mereka merupakan wakil dari yang lain.

c) Harta musyarakah harus dicampur semuanya agar tidak bisa dibedakan lagi siapa pemiliknya, baik harta itu berupa uang ataupun barang.


8. Dasar Hukum Musyarakah


Berikut dasar hukum akad musyarakah (Mahmudatus Sa'diyah dan Nur Aziroh, 2014):

1) Dasar Hukum Musyarakah yang Bersumber dari Al-Qur'an


"Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh. (QS. Shaad ayat 24)

"Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudharat (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Penyantun. (QS. An-Nisa' ayat 12)

2) Dasar Hukum Musyarakah yang Bersumber dari Hadis


"Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang sedang berserikat selama salah satu dari keduanya tidak khianat terhadap saudaranya (temannya). Apabila diantara mereka ada yang berkhianat, maka Aku akan keluar dari mereka." (HR. Abu Dawud)


Daftar Pustaka:

Erni Susana. (2009). Analisis dan Evaluasi Mekanisme Pelaksanaan Pembiayaan Al-Musyarakah pada Bank Syariah. Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol. 13, No. 1 Januari 2009, hal. 176-184, Terakreditasi SK. No. 167/DIKTI/Kep/2007

Muhammad Yusuf. (2012). Analisis Penerapan Akuntansi Musyarakah terhadap PSAK 106 pada Bank Syariah X. Binus Business Review, Vol. 3, No. 1, Mei 2012: 273-285

Navadila Frurizka Susanto, Jenny Morasa, dan Heince R. N Wokas. (2017). Analisis Penerapan Sistem Bagi Hasil Pembiayaan Musyarakah Menurut PSAK No. 106 di PT. Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Manado. Jurnal EMBA, Vol. 5, No. 2, Juni 2017, Hal. 2268-2276-2285

Abdul Aziz. Analisis Risiko Pembiayaan Musyarakah Lembaga Keuangan Syariah. Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Dheni Mahardika Saputra, Zainul Arifin, dan Zahroh. (2015). Analisis Risiko Pembiayaan Musyarakah terhadap Pengembalian Pembiayaan Nasabah (Studi pada PT. BPR. Syariah Bumi Rinjani Probolinggo). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 28, No. 2, November 2015

Putri Kamilatur Rohmi. (2015). Implementasi Akad Musyarakah Mutanaqishah pada Pembiayaan Kepemilikan Rumah di Bank Muamalat Lumajang. Iqtishoduna, Vol. 5, No. 1, April 2015

Mahmudatus Sa'diyah dan Nur Aziroh. (2014). Musyarakah dalam Fiqih dan Perbankan Syariah. Equilibrium: Volume 2, No. 2, Desember 2014.