Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Murabahah: Menjadi Mudah Jual Beli Anda

Murabahah Menjadi Mudah Jual Beli Anda

Daftar Isi:
  1. Pengertian Akad Murabahah
  2. Ketentuan Perbankan Mengenai Akad Murabahah
  3. Landasan Hukum Akad Murabahah
  4. Landasan hukum akad murabahah yang bersumber dari Al-Qur'an
  5. Landasan hukum akad murabahah yang bersumber dari Hadis Nabi
  6. Landasan hukum akad murabahah yang bersumber dari kaidah Ushul Fiqh
  7. Jenis-jenis Akad Murabahah
  8. Murabahah Pesanan
  9. Murabahah tanpa Pesanan
  10. Rukun dan Syarat Murabahah
  11. Rukun-rukun Akad Murabahah
  12. Syarat-syarat Akad Murabahah
  13. Teknik Penentuan Margin (Keuntungan) Akad Murabahah
  14. Karakteristik Utama Akad Murabahah

1. Pengertian Akad Murabahah


Murabahah merupakan transaksi jual beli suatu barang dengan memberitahukan keuntungan yang akan diambil dari barang tersebut dan disepakati oleh pihak yang melakukan transaksi (penjual dan pembeli), keuntungan yang diambil yaitu selisih antara harga perolehan barang dengan harga jual (Fanny Yunita Sri Rejeki, 2013).

2. Ketentuan Perbankan Mengenai Akad Murabahah


Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang akad murabahah, maka terdapat beberapa ketentuan yang harus dipatuhi oleh Bank Syariah dalam melakukan akad murabahah, ketentuan-ketentuan tersebut antara lain (Kiki Priscilia Ramadhani, 2014):

1) Dalam transaksi murabahah Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang menyediakan dana.

2) Bank Syariah dapat membiayai seluruhnya ataupun hanya sebagiannya saja dari harga barang yang telah disepakati (kualifikasinya) dengan nasabah.

3) Bank Syariah dapat memberikan potongan harga yang wajar selama potongan tersebut tidak diperjanjikan di muka.

3. Landasan Hukum Akad Murabahah


Berikut dalil-dalil yang dijadikan sebagai landasan hukum akad murabahah (Yenti Afrida, 2016):

1) Landasan hukum akad murabahah yang bersumber dari Al-Qur'an


"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku sukarela diantaramu..." (QS. An-Nisa' [4]: 29)

"...Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (QS. Al-Baqarah [2]: 275)

"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu..." (QS. Al-Maidah [5]: 1)

"Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan..." (QS. Al-Baqarah [2]: 280])

2) Landasan hukum akad murabahah yang bersumber dari Hadis Nabi


As-Shan'ani, 1995: "Dari Rifa'ah Ibn Rafi', bahwa Rasulullah ditanya: "Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?" Rasulullah menjawab pekerjaan orang dengan tangannya sendiri dan jual beli secara mabrur." (HR. Ahmad, Al-Bazzar dan Ath Thabrani)

Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka." (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibn Hibban).

Nabi bersabda, "Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqharadah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual." (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).

"Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kedzaliman..." (HR. Jama'ah)


3) Landasan hukum akad murabahah yang bersumber dari kaidah Ushul Fiqh


Djazuli, 2007: "Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya."

4. Jenis-jenis Akad Murabahah


Jenis-jenis akad murabahah antara lain sebagai berikut (Muhammad Yusuf, 2013):

1) Murabahah Pesanan


Dalam hal ini Bank Syariah baru akan menyediakan barang setelah adanya pesanan dari pihak nasabah (pembeli), barang yang telah disediakan tersebut harus dibeli oleh nasabah selaku pihak yang telah memesan barang, sehingga murabahah jenis ini disebut dengan murabahah yang terikat.

2) Murabahah tanpa Pesanan


Berbeda dengan murabahah pesanan, murabahah yang satu ini sifatnya lebih bebas dan tidak terikat, karena dalam murabahah tanpa pesanan ini Bank Syariah menyediakan barang tanpa harus dipesan terlebih dahulu oleh nasabah (pembeli).

5. Rukun dan Syarat Murabahah


Berikut ini merupakan penjelasan mengenai rukun dan syarat akad murabahah:

1) Rukun-rukun Akad Murabahah 


a. Adanya penjual dan pembeli.
b. Adanya barang yang akan diperjualbelikan.
c. Harga barang.
d. Adanya ijab qabul (sighat) (Ahmad Maulidizen dan Joni Tamkin Borhan, 2016).

2) Syarat-syarat Akad Murabahah 


a. Pembeli harus mengetahui harga perolehan barang, dengan demikian pihak penjual harus memberitahukannya.

b. Pembeli harus mengetahui keuntungan yang akan diambil oleh penjual.

c. Harta yang nilainya selalu bertambah tidak dibolehkan untuk dijadikan sebagai alat tukar, seperti menukar emas dengan emas.

d. Akad jual beli pertama (penyediaan barang) harus sah (Lely Shofa Imama, 2014).

6. Teknik Penentuan Margin (Keuntungan) Akad Murabahah


Berikut beberapa hal mengenai penentuan margin (keuntungan) menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan) (Lukman Haryoso, 2017):

a. Keuntungan dari jual beli murabahah adalah suatu keuntungan yang diharapkan (expected yield) oleh para penjual.

b. Penjual dapat memberikan potongan margin (keuntungan) murabahah sejauh tidak menjadi kewajibannya yang tertuang dalam perjanjian (akad).

c. Keuntungan harus ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pembeli dengan penjual.

d. Keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nominal atau persentase.

e. Perhitungan keuntungan dapat mengacu pada tingkat keuntungan yang berlaku secara umum di pasar dengan cara mempertimbangkan ekspektasi biaya, risk premium, dan tingkat keuntungan.

f. Tidak dibenarkan akan adanya penambahan keuntungan setelah akad murabahah disepakati.

7. Karakteristik Utama Akad Murabahah


Berikut beberapa karakteristik yang terdapat dalam akad murabahah (Liana Purnama dan Lili Syafitri):

a. Akad murabahah merupakan transaksi jual beli yang secara langsung melibatkan para penjual dan pembeli, bukan sebatas perantara ataupun pihak yang mampu dalam hal pendanaan.

b. Penjual diwajibkan untuk memberitahukan jumlah keuntungan yang diambil dari pembeli.

c. Adanya kesepakatan antara penjual dengan pembeli terhadap jumlah keuntungan yang diambil.

Daftar Pustaka:


Fanny Yunita Sri Rejeki. (2013). Akad Pembiayaan Murabahah dan Praktiknya pada PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Manado. Lex Privatum, Vol. 1, No. 2 April 2013

Kiki Priscilia Ramadhani. (2014). Analisis Kesyariahan Penerapan Pembiayaan Murabahah (Studi Kasus PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah xxx di Kota Mojokerto). Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Yenti Afrida. (2016). Analisis Pembiayaan Murabahah di Perbankan Syariah. JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam), Vol. 1, No. 2, Juli 2016

Muhammad Yusuf. (2013). Analisis Penerapan Pembiayaan Murabahah Berdasarkan Pesanan dan tanpa Pesanan Serta Kesesuaian dengan PSAK 102. Binus Business Review, Vol. 4, No. 1 Mei 2013: 15-29

Ahmad Maulidizen dan Joni Tamkin Borhan. (2016). Aplikasi Pembiayaan Modal Kerja Murabahah bi Al-Wakalah pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Sungkono Surabaya. Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol. 16, No. 1 Agustus 2016: 91-109

Lely Shofa Imama. (2014). Konsep dan Implementasi Murabahah pada Produk Pembiayaan Bank Syariah. Iqtishadia, Vol. 1, No. 2 Desember 2014

Lukman Haryoso. (2017). Penerapan Prinsip Pembiayaan Syariah (Murabahah) pada BMT Bina Usaha di Kabupaten Semarang. Jurnal Law and Justice, Vol. 2, No. 1 April 2017

Liana Purnama Sari dan Lili Syafitri. Pengaruh Pembiayaan Murabahah dan Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia terhadap Pendapatan Margin Murabahah pada PT. Bank Syariah Mandiri. STIE MDP