Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Penjelasan Tuntas Mengenai Akad Wakalah

Penjelasan Tuntas Mengenai Akad Wakalah



Daftar Isi:
  1. Pengertian Akad Wakalah
  2. Dasar Hukum Wakalah
  3. Landasan hukum akad wakalah yang bersumber dari Al-Qur'an
  4. Landasan hukum akad wakalah yang bersumber dari Hadis
  5. Syarat dan Rukun Akad Wakalah

1. Pengertian Akad Wakalah


Wakalah merupakan akad pelimpahan kekuasaan dari satu pihak kepada pihak lainnya, untuk melakukan suatu kegiatan tertentu. Akad ini akan dilakukan apabila seseorang tidak sempat untuk melakukan suatu pekerjaan sehingga ia membutuhkan orang lain untuk mengerjakannya (Indah Nuhyatia, 2013).

2. Dasar Hukum Wakalah


Islam membolehkan kegiatan pelimpahan kekuasaan dari satu pihak kepada pihak lainnya untuk bertindak sebagai penggantinya, berikut dalil yang membolehkannya (Sobirin, 2012):

1) Landasan hukum akad wakalah yang bersumber dari Al-Qur'an


"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang diantara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun." (QS. Al-Kahfi 18:19)

"Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akantetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah 2: 283)

"Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. An-Nisaa 4: 35)

"Berkata Yusuf: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS. Yusuf 12: 55)

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (Al-Maidah ayat 2)

2) Landasan hukum akad wakalah yang bersumber dari Hadis


Banyak hadis yang dapat dijadikan landasan keabsahan wakalah, diantaranya:

"Bahwasanya Rasulullah mewakilkan kepada Abu Rafi' dan seorang Anshar untuk mewakilkannya mengawini Maimunah binti Al-Harist." (HR. Malik dalam Al-Muwaththa')

"Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." (HR. Tirmidzi dari 'Amr bin 'Auf)

3. Syarat dan Rukun Akad Wakalah


1) Menurut Jumhur Fuqaha' rukun wakalah ada empat yaitu (Rizal, 2015):

a. Adanya pihak yang mewakilkan dan yang menerima wakilan.
b. Adanya objek ijarah (barang atau pekerjaan) yang akan diwakilkan.
c. Adanya ijab qabul (serah terima barang) di antara pihak yang berakad.

2) Adapun syarat-syarat dari akad wakalah adalah (Haryo Normala Meilano dan Burhanudin Harahap, 2018):

a. Barang atau urusan yang akan diwakilkan haruslah merupakan bagian dari hak dan kekuasaan pewakil, bukan merupakan barang atau pekerjaan orang lain.

b. Pewakil dan yang menerima wakilan haruslah baligh dan berakal.

c. Hal yang diwakilkan haruslah jelas agar pihak yang menerima wakilan bisa mengerjakan atau melanjutkan dengan benar.

d. Ijab dan qabul (ijab dari pewakil untuk menunjukkan kerelaannya dalam mewakilkan sesuatu dan qabul dari penerima wakilan untuk menunjukkan kerelaannya dalam menerima hal yang diwakilkan kepadanya).

Daftar Pustaka:


Indah Nuhyatia. (2013). Penerapan dan Aplikasi Akad Wakalah pada Produk Jasa Bank Syariah. Economic: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam. Vol. 3, No. 2, 2013

Sobirin. (2012). Konsep Akad Wakalah dan Aplikasinya dalam Perbankan Syariah (Studi Kasus Bank BNI Syariah Cabang Bogor). Jurnal Ekonomi Islam Al-Infaq. Vol. 3, No. 2, September 2012

Haryo Normala Meilano dan Burhanudin Harahap. (2018). Implementasi Akad Wakalah dalam Pembiayaan Murabahah pada Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Cabang Surakarta. Masalah-masalah Hukum. Jilid 47, No. 2, April 2018

Rizal. (2015). Implementasi Wakalah pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Equilibrium. Vol. 3, No. 1, Juni 2015