Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Salam, Pesan Dulu Baru Antar

Salam, Pesan Dulu Baru Antar

Daftar Isi:
  1. Pengertian Akad Salam
  2. Perbedaan Akad Salam dengan Akad Istishna
  3. Landasan Hukum Akad Salam
  4. Rukun dan Syarat-syarat Akad Salam
  5. Rukun-rukun Akad Salam
  6. Syarat-syarat Akad Salam
  7. Karakteristik Akad Salam
  8. Spesifikasi dan harga barang harus disepakati diawal akad
  9. Adanya beberapa ketentuan mengenai proses pembayaran
  10. Ketentuan Objek Salam

1. Pengertian Akad Salam


Jual beli salam merupakan akad jual beli barang dengan cara pesanan, pembeli akan memesan barang terlebih dahulu pada pihak penjual dengan menentukan spesifikasi tertentu, proses pembayaran dilakukan di muka, sedangkan pengiriman barang dilakukan dikemudian hari (Saprida, 2016).


2. Perbedaan Akad Salam dengan Akad Istishna


Berikut beberapa perbedaan antara akad salam dengan akad istishna (Uswah Hasanah, 2018):

a. Objek akad salam berupa tanggungan sedangkan objek akad istishna berupa benda.

b. Akad salam dibatasi dengan jangka waktu yang pasti sedangkan akad istishna tidak dibatasi dengan jangka waktu yang pasti.

c. Akad salam bersifat mengikat kedua belah pihak sedangkan akad istishna tidak bersifat mengikat.

d. Pembayaran dalam akad salam dilakukan secara tunai di tempat dilakukannya akad sedangkan dalam akad istishna pembayaran boleh dilakukan diawal, tengah, ataupun di akhir.

3. Landasan Hukum Akad Salam


Berikut beberapa dalil yang dijadikan sebagai landasan hukum akad salam (imam Mustofa dan Setiawan, 2017):

Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 282: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar..." (QS. Al-Baqarah: 282)

Sedangkan dalam Al-Hadis disebutkan: Rasulullah SAW datang ke Madinah, dan pada saat itu orang banyak sedang mengadakan salam pada tamar untuk jangka waktu dua dan tiga tahun. Maka Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa menghutangkan, hendaklah ia menghutangkan dalam harga yang diketahui dan timbangan yang diketahui, hingga masa yang diketahui." (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Rukun dan Syarat-syarat Akad Salam


Berikut penjelasan mengenai rukun dan syarat-syarat akad salam (Siti Mujiatun, 2013):

1) Rukun-rukun Akad Salam


a. Adanya penjual dan pembeli
b. Adanya modal (uang)
c. Tersedianya barang
d. Adanya ijab qabul (serah terima barang)

2) Syarat-syarat Akad Salam


a. Kedua belah pihak harus saling ridha (rela) terhadap akad yang mereka lakukan
b. Kedua belah pihak harus cakap hukum

5. Karakteristik Akad Salam


Berikut beberapa karakteristik akad salam (Wiwik Fitria Ningsih, 2015):

1) Spesifikasi dan harga barang harus disepakati diawal akad


a. Tidak dibenarkan adanya perubahan harga barang selama jangka waktu akad

b. Pembeli dapat meminta jaminan dari pihak penjual untuk berjaga-jaga dari terjadinya kerugian

c. Barang yang dipesan harus terlebih dahulu disepakati diantara pihak penjual dengan pihak pembeli.

d. Informasi mengenai objek ijarah (barang pesanan) harus diketahui dan ditentukan oleh kedua belah pihak, baik itu informasi mengenai jenis, kualitas, dan kuantitas barang.

e. Apabila penjual mengirim barang tidak sesuai dengan yang telah ditentukan oleh pihak pembeli maka penjual harus bertanggung jawab.


2) Adanya beberapa ketentuan mengenai proses pembayaran


a. Alat pembayaran harus jelas berapa jumlah dan nilainya
b. Proses pembayaran harus dilakukan disaat akad tersebut disepakati
c. Pembayaran bukan bertujuan untuk pembebasan utang.


3) Barang yang dijadikan sebagai objek salam memiliki beberapa ketentuan sebagai berikut:


a. Barang harus jelas bentuk dan spesifikasinya agar dapat dianggap dan diakui sebagai utang bagi si pembeli.

b. Informasi barang harus dapat dijelaskan secara rinci agar tidak adanya selisih paham setelah terjadinya pembelian.

c. Waktu penyerahan barang dilakukan dikemudian hari setelah proses pemesanan selesai.

d. Tempat penyerahan barang harus jelas dan ditentukan diawal akad.

e. Pihak pembeli tidak boleh langsung menjual barang yang dibelinya sebelum barang tersebut sampai ke tangannya.

f. Tidak dibenarkan menukar barang kecuali dengan barang sejenis yang telah disepakati.

Daftar Pustaka:


Saprida. (2016). Akad Salam dalam Transaksi Jual Beli. Mizan: Jurnal Ilmu Syariah, FAI Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. Vol. 4, No. 1 2016

Uswah Hasanah. (2018). Bay' Al-Salam dan Bay' Al-Istishna' (Kajian terhadap Produk Perekonomian Islam). Intiqad: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam. Juni 2018

Imam Mustofa dan Setiawan. (2017). Hubungan Faktor-faktor Penentu Pembiayaan Bai' Salam di Kecamatan Candipuro Lampung Selatan. Jurnal Akuntansi Keuangan dan Bisnis. Vol. 10, No. 2, November 2017

Siti Mujiatun. (2013). Jual Beli dalam Perspektif Islam: Salam dan Istishna. Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis. Vol. 13, No. 2, September 2013

Wiwik Fitria Ningsih. (2015). Modifikasi Pembiayaan Salam dan Implikasi Perlakuan Akuntansi Salam. Jurnal Akuntansi Universitas Jember. Vol. 13, No. 2, Desember 2015

Sumantri. (2016). Pandangan Hukum Islam terhadap Jual Beli As-Salam (Studi Kasus: Perabot Meubel Andra Rizki di Desa Simpang Terusan Kecamatan Muara Bulian). Muamalah. Vol. 2, No. 1, September 2016