Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Penjelasan Tuntas Mengenai Akad Hawalah

Penjelasan Tuntas Mengenai Akad Hawalah

Daftar Isi:
  1. Pengertian Akad Hawalah
  2. Hawalah dalam Fatwa DSN-MUI
  3. Landasan Hukum Akad Hawalah
  4. Landasan hukum akad hawalah yang bersumber dari Al-Qur'an
  5. Landasan hukum akad hawalah yang bersumber dari Hadis
  6. Rukun dan Syarat Akad Hawalah
  7. Rukun-rukun Akad Hawalah
  8. Syarat-syarat Akad Hawalah
  9. Aturan Konsep Akad Hawalah dalam Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI)
  10. Penyebab Berakhirnya Akad Hawalah


1. Pengertian Akad Hawalah


Hawalah secara bahasa berarti memindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain atau memindahkan hutang dari satu perjanjian ke perjanjian yang lain. Secara istilah hawalah berarti pengalihan hutang dari satu perjanjian kepada perjanjian yang lain atau pengalihan hutang dari satu pihak kepada pihak yang lain dengan tidak menaikkan ataupun menurunkan jumlah hutang yang harus dibayarkan oleh pihak yang akan menanggungnya (Suprihatin, 2011).

2. Hawalah dalam Fatwa DSN-MUI


Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN)-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 58/DSN-MUI/V/2007 Mengenai hawalah bil ujrah, maka penerapan akad hawalah yang dianggap sesuai dengan fatwa tersebut adalah hawalah bil ujrah, sedangkan hawalah bil murabahah, hawalah bil mudharabah, dan hawalah bil musyarakah dianggap tidak sesuai dengan syariah Islam dikarenakan dalam akad tersebut digabungkan antara akad tabarru' (tolong-menolong) dengan akad tijari (jual-beli) (Falikhatun, Sri Iswati, dan Mohammad Saleh, 2017).

3. Landasan Hukum Akad Hawalah


Berikut landasan hukum akad hawalah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis (Suprihatin, 2011):

1) Landasan hukum akad hawalah yang bersumber dari Al-Qur'an


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya dan binatang-binatang qalaaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka) dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. Al-Maidah ayat 2).

2) Landasan hukum akad hawalah yang bersumber dari Hadis


"Penangguhan orang kaya (untuk tidak bayar hutang) itu aniaya, dan apabila salah seorang kamu dipindahkan kepada orang kaya, hendaklah ia menerimanya." (HR. Bukhari dan Ahmad)

4. Rukun dan Syarat Akad Hawalah


Berikut penjelasan mengenai rukun dan syarat akad hawalah (Suprihatin, 2011):

1) Rukun-rukun Akad Hawalah


Imam Syafi'i menjelaskan bahwa rukun-rukun akad hawalah antara lain yaitu:

a. Adanya Muhil
b. Adanya Muhal
c. Adanya Muhal Alaih
d. Adanya piutang Muhal kepada Muhil
e. Adanya hutang Muhil kepada Muhal Alaih
f. Adanya ijab qabul (sighat).

2) Syarat-syarat Akad Hawalah


a. Adanya kerelaan para pihak yang melakukan akad
b. Piutang Muhal harus diketahui dengan jelas, baik itu mengenai jumlah ataupun jenisnya
c. Hutang Muhal Alaih harus bersifat lazim
d. Adanya kesamaan jumlah hutang Muhil kepada Muhal dan Piutang Muhil kepada Muhal Alaih

5. Aturan Konsep Akad Hawalah dalam Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI)


Berbagai konsep mengenai akad hawalah yang diimplementasikan dalam perbankan syariah telah diatur dalam SEBI Nomor 10/14/DPBS yang menjelaskan bahwa salah satu produk yang ada dalam perbankan syariah yaitu akad hawalah. Dalam Surat Edaran Bank Indonesia tersebut akad hawalah dikategorikan ke dalam dua bagian yaitu akad hawalah muthlaqah dan hawalah muqayyadah. Hawalah muthlaqah adalah sebuah akad yang digunakan dalam hal pengalihan hutang pihak yang mengakibatkan adanya uang keluar bank. Sedangkan hawalah muqayyadah adalah sebuah akad yang digunakan dalam hal penyelesaian hutang-piutang diantara tiga pihak yang bermuamalah dengan cara mengalihkan hutang dari satu pihak kepada pihak lain dengan tidak mengakibatkan adanya uang keluar (Baerin Octaviani, 2015).

6. Penyebab Berakhirnya Akad Hawalah


Berikut beberapa hal yang menjadi penyebab berakhirnya akad hawalah (Suprihatin, 2011):

a. Akad hawalah dapat berakhir apabila salah satu pihak membatalkannya atau memfasakh akad yang dijalankan tersebut.
b. Meninggal atau bangkrutnya pihak yang menanggung untuk membayar hutang.
c. Apabila pihak yang menanggung untuk membayar hutang telah membayarkan hutang tersebut kepada pihak yang bersangkutan, maka akad hawalah dianggap telah berakhir.
d. Apabila Muhal menghibahkan, menyedekahkan, ataupun menghapusbuku-kan kewajiban untuk membayar hutang kepada Muhal Alaih, maka akad hawalah telah berakhir.

Daftar Pustaka:


Suprihatin. (2011). Al-Hawalah dan Relevansinya dengan Perekonomian Islam Modern. Maslahah, Vol. 2, No. 1, Maret 2011

Falikhatun, Sri Iswati, dan Muhammad Saleh. (2017). Produk Pembiayaan Sosial pada Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah, Vol. 5, No. 1, April 2017

Baerin Octaviani. (2015). Perbandingan Konsep Anjak Piutang Syariah DSN-MUI dan Konsep Akad Hiwalah dalam Surat Edaran Bank Indonesia. Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah, Vol. 6, No. 2, Desember 2015