Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Penjelasan Tuntas Mengenai Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT)

Penjelasan Tuntas Mengenai Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT)

Daftar Isi:
  1. Pengertian Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT)
  2. Ketentuan Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT)
  3. Rukun dan Syarat Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik
  4. Landasan Hukum Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik
  5. Landasan hukum akad ijarah muntahiyah bittamlik yang bersumber dari Al-Qur'an
  6. Landasan hukum akad ijarah muntahiyah bittamlik yang bersumber dari Hadis Rasulullah SAW.

1. Pengertian Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT)


Ijarah Muntahiyah Bittamlik merupakan akad sewa-menyewa atau perpindahan manfaat suatu barang yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang diakhiri dengan perpindahan kepemilikan terhadap barang pada akhir akad yang dikarenakan adanya pembelian terhadap barang oleh salah satu pihak. Akad ini juga merupakan gabungan antara akad sewa-menyewa dengan akad jual beli (Umi Khoiriyah & Khairul Umam Al-Basit, 2017).

2. Ketentuan Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT)


Berdasarkan PSAK 107, akad ijarah muntahiyah bittamlik memiliki beberapa ketentuan sebagai berikut (Martha Tona, 2012):

a. Objek ijarah hanya diakui sebesar biaya perolehannya dan akan susut seiring berjalannya akad ijarah.

b. Pendapatan dari akad ijarah diakui selama akad tersebut masih berjalan dan di akhir akad ijarah muntahiyah bittamlik yang berlangsung dengan penjualan objek ijarah kepada salah satu pihak (perpindahan kepemilikan).

c. Piutang pendapatan yang ada dalam akad ijarah muntahiyah bittamlik dihitung berdasarkan hasil bersih yang dapat diberikan disaat periode pelaporan berakhir.

d. Apabila biaya akad ijarah dibebankan oleh pemilik objek ijarah, maka biaya tersebut akan disalurkan secara tetap dengan penyaluran pendapatan ijarah muntahiyah bittamlik selama akad tersebut masih berlangsung.

e. Pengakuan biaya perbaikan objek sewa adalah sebagai berikut:

a) Biaya yang digunakan untuk perbaikan rutin objek sewa diakui pada saat dilakukannya perbaikan.
b) Jika perbaikan rutin objek sewa dilakukan oleh pihak yang menyewa barang sedang dia telah mendapatkan izin untuk memperbaikinya dari pemilik barang, maka seluruh biaya akan ditanggung oleh pemilik dan biaya tersebut diakui sebagai beban saat dilakukannya perbaikan objek sewa tersebut.
c) Penjualan bertahap yang ada dalam ijarah muntahiyah bittamlik menyebabkan biaya perbaikan rutin objek sewa ditanggung oleh kedua belah pihak yang memiliki hak kepemilikan terhadap aset ijarah dan masing-masing mereka akan menanggung sesuai dengan besarnya hak kepemilikan mereka.

f. Perpindahan hak milik objek sewa akad ijarah muntahiyah bittamlik yang dilakukan melalui hibah baru diakui setelah semua pembayaran sewa lunas dibayarkan dan objek sewa telah diserahkan kepada penyewa. Pemilik objek sewa akan menghapus objek sewa dalam aktiva yang dimilikinya setelah terjadinya perpindahan kepemilikan terhadap objek sewa. Sehingga pengakuan aset dalam ijarah muntahiyah bittamlik tidak boleh dilakukan dengan cara mengacu pada PSAK 107.

g. Perpindahan hak milik terhadap objek sewa dalam akad ijarah muntahiyah bittamlik yang dilakukan melalui kegiatan penjualan aset pada akhir periode diakui saat transaksi penjualan tersebut dilakukan. Besarnya harga yang harus dikeluarkan oleh pihak pembeli yaitu sebesar sisa cicilan sewa. Pihak penjual mengakui keuntungan dan kerugian atas penjualan objek sewa tersebut sebesar selisih antara harga jual dengan nilai buku bersih.

h. Pengakuan pelepasan objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlik melalui pembayaran lebih kurang sebagai berikut:

a) Hak milik terhadap objek sewa baru akan berpindah dan diakui setelah penyewa menyelesaikan semua kewajibannya untuk membayarkan biaya sewa dan membeli barang/objek sewa tersebut dari pemiliknya.
b) Disaat objek sewa telah diserahkan oleh pemilik kepada pihak yang membelinya, kedudukan objek sewa dalam aktiva pemilik akan akan dihapuskan.
c) Apabila penyewa memutuskan untuk tidak membeli objek sewa yang telah dijanjikan untuk dibeli sebelumnya dan nilai wajar objek sewa lebih rendah dari nilai bukunya, maka selisih antara keduanya (nilai wajar objek sewa dan nilai buku) dianggap sebagai piutang pemilik objek sewa pada pihak yang menyewa barang.
d) Apabila penyewa memutuskan untuk tidak membeli objek sewa yang belum dijanjikan untuk dibeli, maka penilaian objek sewa sesuai dengan nilai wajar objek sewa atau nilai buku yang nantinya akan dilihat mana yang nilainya lebih rendah. Apabila nilai wajar objek sewa lebih sedikit dibandingkan dengan nilai buku maka selisih antara nilai wajar dengan nilai buku dianggap sebagai kerugian selama periode berjalan.

i. Berikut beberapa penjelasan mengenai pengakuan pelepasan objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlik berdasarkan penjualan objek sewa secara bertahap:

a) Apabila pembayaran sewa telah diselesaikan dan pihak yang menyewa barang membeli sebagian objek sewa maka perpindahan hak milik terhadap objek sewa telah diakui.
b) Ketika objek sewa telah berpindah kepada orang yang menyewa dengan disebabkan adanya pembelian secara bertahap, maka nilai buku objek sewa akan dikeluarkan dari aktiva pemilik objek sewa.
c) Pemilik objek sewa akan mengakui keuntungan maupun kerugian sebesar selisih antara nilai jual dengan nilai buku atas bagian dari objek sewa yang telah dijual.

j. Apabila terjadinya penurunan nilai objek sewa sebelum dilakukannya perpindahan kepemilikan dan hal tersebut bukan akibat dari kelalaian penyewa, serta cicilan sewa ijarah yang sudah dibayar melebihi nilai wajar, maka selisih antara keduanya (nilai objek ijarah dan cicilan ijarah) menjadi kewajiban pihak yang menyewa dan dijadikan sebagai beban pada periode terjadinya penurunan nilai objek ijarah tersebut.

3. Rukun dan Syarat Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik


Berikut penjelasan mengenai rukun dan syarat akad ijarah muntahiyah bittamlik (Nasrulloh Ali Munif, 2016):

Berdasarkan ketentuan yang ada dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES), tidak ada aturan khusus mengenai rukun dan syarat akad ijarah muntahiyah bittamlik. Akantetapi dalam Pasal 278 KHES dijelaskan bahwa rukun dan syarat yang ada dalam akad ijarah dapat diterapkan dalam akad ijarah muntahiyah bittamlik, berikut rukun dari akad ijarah:

a. Penyewa (musta'jir) adalah orang yang menyewa barang/objek sewa. Jika dalam ruang lingkup perbankan syariah penyewa ini dikenal dengan sebutan nasabah.
b. Pemilik objek sewa (mu'ajjir) adalah orang yang mempunyai barang untuk disewakan.
c. Objek sewa (ma'jur) adalah barang yang akan dijadikan sebagai objek dalam akad ijarah.
d. Ijab qabul adalah serah terima barang/objek ijarah yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang melakukan akad.

Sedangkan syarat-syarat akad ijarah muntahiyah bittamlik antara lain yaitu:

a. Objek ijarah muntahiyah bittamlik akan berpindah kepemilikannya pada akhir akad yaitu dari tangan pemilik ke tangan penyewa dikarenakan adanya pembelian secara bertahap.
b. Pihak yang berakad harus menyatakan dengan jelas bahwa akad yang dilakukan tersebut merupakan akad ijarah muntahiyah bittamlik.
c. Proses perpindahan kepemilikan hanya boleh dilakukan apabila masa ijarah muntahiyah bittamlik telah berakhir.
d. Penyewa tidak dibenarkan untuk menjual objek sewa kepada pihak lain selama akad ijarah muntahiyah bittamlik masih berlangsung.
e. Pembayaran bertahap yang dilakukan oleh penyewa akan dihitung sebagai harga dari objek ijarah muntahiyah bittamlik.

4. Landasan Hukum Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik


Berikut landasan hukum akad ijarah muntahiyah bittamlik yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis Rasulullah (Afit Kurniawan dan Nur Inayah, 2013):

1) Landasan hukum akad ijarah muntahiyah bittamlik yang bersumber dari Al-Qur'an


"Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah, (2): 233)

2) Landasan hukum akad ijarah muntahiyah bittamlik yang bersumber dari Hadis Rasulullah SAW.


Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering." (HR. Ibnu Majah).

Daftar Pustaka:


Umi Khoiriyah & Khairul Umam Al-Basit. (2017). Akad Pembiayaan Ijarah Muntahiyah Bittamlik (Leasing) di BMT Sidogiri Cabang Situbondo: Perspektif Maqashid Syariah. Istidlal, Vol. 01, No. 02, Oktober 2017

Martha Tona. (2012). Akuntansi Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik: Perspektif Metode Maqashid Al-Syariah. Media Mahardhika, Vol. 10, No. 02, Januari 2012

Nasrulloh Ali Munif. (2016). Analisis Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia. AHKAM, Vol. 04, No. 01, Juli 2016

Afit Kurniawan dan Nur Inayah. (2013). Tinjauan Kepemilikan dalam KPR Syariah: Antara Murabahah, Ijarah Muntahiyah Bittamlik, dan Musyarakah Mutanaqishah. Equilibrium, Vol. 01, No. 02, Desember 2013