Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Asuransi Syariah: Solusi Terbaik untuk Berasuransi

Asuransi Syariah: Solusi Terbaik untuk Berasuransi

Daftar Isi:
  1. Pengertian Asuransi Syariah
  2. Prinsip-prinsip Asuransi Syariah
  3. Karakteristik Asuransi Syariah
  4. Landasan Hukum Asuransi Syariah dalam Al-Qur'an dan Hadis
  5. Landasan Hukum Asuransi Syariah yang Bersumber dari Al-Qur'an
  6. Landasan Hukum Asuransi Syariah yang Bersumber dari Hadis
  7. Mekanisme Operasional Asuransi Umum (Asuransi Kerugian) Syariah


1. Pengertian Asuransi Syariah


Berdasarkan Fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) Asuransi Syariah adalah kegiatan saling membantu antara sesama manusia dalam hal mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko yang akan ataupun kemungkinan terjadi di masa mendatang. Kegiatan tolong-menolong ini diimplementasikan dalam bentuk perjanjian melalui akad tabarru' atau akad lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah (Teguh Suprito dan Abdullah Salam, 2017).

2. Prinsip-prinsip Asuransi Syariah


Berikut penjelasan mengenai prinsip-prinsip Asuransi Syariah (Reynaldi Muhammad, Jantje J. Tinangon, dan Treesje Runtu, 2017) ; (Uswatun Hasanah, 2013):

1) Berdasarkan PSAK 108 maka prinsip dasar yang ada dalam Asuransi Syariah yaitu prinsip tolong-menolong (ta'awuni) dan saling menanggung (tafakuli) antara para anggota dengan pihak asuransi.

2) Tauhid (ketakwaan) merupakan prinsip terpenting yang diterapkan dalam Asuransi Syariah agar setiap bentuk kegiatan yang dilakukan tidak melanggar aturan ataupun hukum Islam. Tak hanya itu, dengan adanya prinsip ketakwaan maka pihak-pihak yang terlibat dengan asuransi akan berupaya untuk meningkatkan keimanannya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3) Keadilan, menjadi prinsip yang sangat diperlukan dalam kegiatan bermuamalah, apalagi dalam kegiatan asuransi yang diikuti oleh banyak peserta, jika keadilan tidak dapat diterapkan dengan baik dalam Asuransi Syariah, maka sudah dapat dikatakan bahwa akan ada pihak yang terzalimi dan meninggalkan kegiatan kerja sama dengan pihak Asuransi Syariah.

4) Kejujuran, hal ini dijadikan sebagai prinsip dalam Asuransi Syariah supaya setiap kegiatan yang dilakukan dapat berjalan lancar dan semua informasi yang terkait dengan Asuransi Syariah disampaikan dengan jelas dan benar. Tak hanya itu, jika pihak Asuransi Syariah dapat mempertahankan prinsip kejujuran, maka para anggotanya akan merasakan yang namanya kenyamanan dalam berlangganan. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan akan meningkatnya jumlah masyarakat yang ingin bekerja sama dengan pihak Asuransi Syariah.

5) Al-Rida (suka sama suka), tak hanya di Asuransi Syariah, prinsip saling ridha juga sangat penting untuk diimplementasikan dalam lembaga atau bisnis apapun, termasuk per individu. Karena dengan adanya sikap saling rela antara satu sama lain akan meningkatkan rasa saling percaya dan menyayangi antara satu sama lainnya, sehingga masalah dalam kehidupan bersosial pun akan berkurang.

6) Larangan melakukan risywah (sogok/suap), hal ini merupakan prinsip yang harus dipertahankan oleh Asuransi Syariah agar menjadi lembaga yang profesional dan mengutamakan apa yang seharusnya diutamakan, selain itu dengan adanya pelarangan risywah ini maka masyarakat akan lebih bersemangat untuk meningkatkan kemampuannya dalam setiap bidang yang diminati dan tidak hanya mengandalkan uang ataupun kekayaan untuk mendapatkan posisi yang aman.

7) Al-Maslahah (kemaslahatan), dengan prinsip ini Asuransi Syariah akan menjadi lembaga yang akrab dengan masyarakat, dikarenakan kemaslahatan atau kebaikan merupakan hal yang dapat menjadikan tatanan kehidupan masyarakat lebih berarti dan inilah yang menjadi target terpenting untuk diperhatikan oleh pihak Asuransi Syariah. Segala upaya untuk mencapai kemaslahatan bagi umat manusia harus dilakukan dan tidak hanya berfokus tentang bagaimana cara mendapatkan keuntungan yang banyak.

8) Al-Khidmah (pelayanan). Pelayanan yang baik tentu saja akan memikat hati para anggota Asuransi Syariah. Di sisi lain, baik buruknya pelayanan pada suatu lembaga dapat menunjukkan tingkat keikhlasan pihak lembaga tersebut dalam melayani nasabah atau pelanggannya. Semakin baik pelayanan, maka akan semakin tinggi tingkat keikhlasan yang melekat pada sebuah lembaga dan menjadikan lembaga tersebut berada di posisi yang baik dalam pandangan para pelanggan atau orang-orang yang berhubungan dengannya.

9) Larangan melakukan tatfif (kecurangan). Prinsip ini sangatlah diperlukan demi kebaikan dan keselamatan sebuah lembaga, jika kecurangan sudah menjadi budaya, maka sudah dapat dipastikan bahwa lembaga tersebut berada dalam posisi yang tidak aman dan peluang untuk runtuh atau hancur sangatlah besar. Hal ini dikarenakan para pihak yang merasa dicurangi oleh sebuah lembaga merasakan ketidaknyamanan di hatinya sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa pihak tersebut akan melakukan sesuatu yang buruk untuk memuaskan hatinya yang sudah terluka.

10) Menjauhi Gharar, Maysir, dan Riba. Hal ini sudah pasti harus dihindari agar Asuransi Syariah benar-benar menjadi sebuah lembaga yang murni syariah dan tidak memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari bidang-bidang yang telah diharamkan.

3. Karakteristik Asuransi Syariah


Menurut M. Nur Rianto (2012) Asuransi Syariah memiliki beberapa ciri utama (Agus Purnomo, 2017):

1) Asuransi Syariah memiliki sifat tabarru' (tolong-menolong), sama halnya dengan lembaga lain, tolong-menolong dalam Asuransi Syariah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para anggotanya atau masyarakat pada umumnya, hal ini menjadikan lembaga Asuransi Syariah sebagai lembaga yang mementingkan akan keberadaan masyarakat serta mendukung masyarakat dalam hal berjaga-jaga untuk menghadapi masalah atau risiko yang terjadi di masa yang akan datang.

2) Setiap keputusan yang ada dalam Asuransi Syariah berasal dari keputusan bersama dengan para anggotanya (berjamaah) sehingga tidak ada pihak yang lebih kuat atau yang lebih berhak dalam memutuskan sesuatu. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari menghargai keberadaan para anggota asuransi dan memposisikan para anggota sebagai bagian dari asuransi dan bebas untuk memberikan masukan ataupun berpendapat.

3) Asuransi Syariah bisa dikatakan sebagai asuransi yang berbentuk kekeluargaan dimana pihak-pihak yang ada di dalamnya saling bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan serta membangun komunikasi dan kepercayaan yang baik.

4. Landasan Hukum Asuransi Syariah dalam Al-Qur'an dan Hadis


Berikut dalil-dalil yang dijadikan sebagai landasan hukum Asuransi Syariah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis (Muhammad Tho'in dan Anik, 2015);

1) Landasan Hukum Asuransi Syariah yang Bersumber dari Al-Qur'an


"... tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya". (QS. Al-Maidah 5:2)

"... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu ...". (QS. Al-Baqarah 2:185)

"... perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir benih, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah 2:261)

"... (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru: "Yusuf, hai orang-orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya". Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur). (QS. Yusuf 12:46-49)

"... tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah ...". (QS. Al-Taghaabun 64:11)

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat dan dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak seorangpun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan besok; dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Luqman 31:34)

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." (QS. Hud 11:16)

"... dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan yang lain? ...." (QS. An-Naml 27:64)

"... dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan memberi rezeki kepadanya." (QS. Al-Hijr 15:20)

2) Landasan Hukum Asuransi Syariah yang Bersumber dari Hadis

 

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Nabi Muhammad bersabda: "Barang siapa yang menghilangkan kesulitan duniawinya seorang mukmin, maka Allah SWT. Akan menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat, barang siapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka Allah SWT. Akan mempermudah urusan dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

5. Mekanisme Operasional Asuransi Umum (Asuransi Kerugian) Syariah


Operasional Asuransi Umum Syariah terdiri dari beberapa langkah antara lain yaitu (Nurul Ichsan, 2016):

a. Setiap premi takaful yang diterima dimasukkan ke dalam rekening tabarru' (akad tolong-menolong).

b. Selanjutnya, premi takaful dipisahkan dengan cara dimasukkan ke dalam rekening kumpulan dana para peserta, yang tujuannya yaitu untuk disalurkan ke dalam bentuk investasi bisnis yang dihalalkan dalam Islam.

c. Apabila pihak asuransi mendapatkan keuntungan atas investasi yang dilakukan maka keuntungan tersebut dimasukkan lagi ke dalam rekening kumpulan dana para peserta.

d. Kemudian, keuntungan yang telah dimasukkan ke dalam rekening kumpulan dana para peserta dikurangi dengan beban asuransi (klaim/premi asuransi) dan apabila masih ada kelebihan, maka kelebihan itulah yang akan dibagi antara pihak asuransi dengan para peserta (pihak yang menanggung dengan pihak yang tertanggung). Pembagian keuntungan ini dengan menggunakan prinsip mudharabah sehingga lebih mudah dalam hal pembagian keuntungan dan sesuai dengan syariah.

Daftar Pustaka:

Teguh Suripto dan Abdullah Salam. (2017). Analisa Penerapan Prinsip Syariah dalam Asuransi. Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia. Vol. 7, No. 2, Desember 2017

Reynaldi Muhammad, Jantje J. Tinangon, dan Treesje Runtu. (2017). Analisis Akuntansi Dana Investasi Asuransi Umum Syariah dan Konvensional serta Perlakuan terhadap Hasil Investasi (Studi Kasus pada PT. Asuransi Asei Indonesia). Jurnal Riset Akuntansi Going Concern. Vol. 12, No. 2, 2017

Uswatun Hasanah. (2013). Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam. Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum. Vol. 47, No. 1, Juni 2013

Agus Purnomo. (2017). Analisis Pembayaran Premi dalam Asuransi Syariah. Al-Uqud: Journal of Islamic Economics. Vol. 1, No. 1, Januari 2017

Muhammad Tho'in dan Anik. (2015). Aspek-aspek Syariah dalam Asuransi Syariah. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam. Vol. 1, No. 1, Maret 2015

Nurul Ichsan. (2016). Peluang dan Tantangan Inovasi Produk Asuransi Umum Syariah. Jurnal Ekonomi Islam. Vol. 7, No. 2, September 2016