Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Penjelasan Tuntas Mengenai Riba

Penjelasan Tuntas Mengenai Riba

Daftar Isi:
  1. Pengertian Riba
  2. Dalil-dalil Pelarangan Riba dalam Al-Qur'an dan Hadis
  3. Dalil-dalil Pelarangan Riba yang Bersumber dari Al-Qur'an
  4. Dalil-dalil Pelarangan Riba yang Bersumber dari Hadis
  5. Hadis Umum
  6. Hadis Mengenai Riba Nasi'ah
  7. Hadis Mengenai Riba Al-Fadhl
  8. Jenis-jenis Riba
  9. Hikmah Pelarangan Riba
  10. Dampak dari Praktek Riba
  11. Jalan Keluar dari Riba


1. Pengertian Riba


Secara bahasa riba berarti bertambah atau tambahan. Sedangkan pengertian secara teknis yaitu tambahan terhadap jumlah beban yang harus dibayarkan oleh pihak yang bersangkutan dalam transaksi pinjam-meminjam uang ataupun pertukaran barang dengan barang berdasarkan jumlah dan waktu pinjaman (Muhammad Afdi Nizar, 2007).

2. Dalil-dalil Pelarangan Riba dalam Al-Qur'an dan Hadis


Berikut dalil-dalil pelarangan riba yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis (Abdul Salam, 2013) dan (Ashfaq Ahmad, Kashifur Rehman, dan Asad Afzal Humayoun, 2011):

1) Dalil-dalil Pelarangan Riba yang Bersumber dari Al-Qur'an


"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah ayat 275)

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (QS. Al-Baqarah ayat 276)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah ayat 278)

"Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." (QS. Al-Baqarah ayat 279)

"Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah ayat 280)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan." (QS. Ali-Imran ayat 130)

2) Dalil-dalil Pelarangan Riba yang Bersumber dari Hadis


Berikut Hadis Rasulullah yang menjelaskan mengenai riba (Abdul Rahim, 2015), (Muhammad Arif, Dr. Ashiq Hussain, dan Muhammad Azeem, 2012), dan (M. Umer Chapra, 2006):

a. Hadis Umum


Dari Jabir (RAA) Nabi (SAW) mengutuk penerima dan pembayar bunga, orang yang mencatatnya dan dua saksi untuk transaksi tersebut dan berkata: "Mereka semua sama-sama (bersalah)" (Muslim, Tirmidzi dan Musnad Ahmad).

Jabir Ibn Abdallah (RAA) memberikan laporan tentang ziarah perpisahan Nabi, mengatakan: Nabi (SAW) ditujukan kepada orang-orang dan berkata: "Semua riba dari jahiliyyah dibatalkan. Riba pertama yang saya ingkari adalah riba kami yang diakuisisi kepada "Abbas Ibn Abdul Al-Mutalib (paman Nabi); itu sedang dibatalkan sepenuhnya." (Muslim, Musnad, dan Ahmad)

Dari 'Abdullah Ibn Hanzalah (RAA) Nabi (SAW) bersabda: "Dirham riba yang diterima seorang pria secara sadar lebih buruk daripada melakukan perzinahan tiga puluh enam kali" (Mishkat al-Masabih, Kitab al-Buyu', Bab al-riba, pada otoritas Ahmad dan Daraqutni). Bayhaqi juga melaporkan hadis di atas di Shu'ab al-Imam dengan tambahan bahwa "Neraka layaknya dia yang dagingnya telah dipelihara oleh yang melanggar hukum."

Dari Abu Hurayrah (RAA): Nabi (SAW) bersabda: Pada malam kenaikan saya mendatangi orang-orang yang perutnya seperti rumah-rumah dengan ular yang terlihat dari luar saya bertanya kepada Jibril siapa mereka. Dia menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menerima bunga." (Ibnu Majah, Kitab al-Tijarat, Bab al-Taghlizi fi al-Riba; juga di Musnad Ahmad).

Dari Abu Hurayrah (RAA): Nabi (SAW) sedih (Riba memiliki tujuh puluh segmen, yang paling serius setara dengan seorang pria yang melakukan perzinahan dengan ibunya sendiri." (Ibn Majah)

b. Hadis Mengenai Riba Nasi'ah


Dari Usamah Ibn Zayd (RAA): Nabi (SAW) bersabda: "Tidak ada riba kecuali dalam Nasiyah (menunggu)." (Bukhari, Muslim, dan Musnad Ahmad) "Tidak ada riba di tangan ke tangan (tempat) transaksi (Muslim dan Nasa'i).

Dari Abu Burdah Ibn Abi Musa (RAA). Saya datang ke Madinah dan bertemu dengan Abdallah Ibn Salam yang berkata: "Anda tinggal di negara dimana riba merajalela; maka jika ada yang berutang sesuatu kepada Anda dan memberi Anda banyak jerami, atau banyak jelai, atau seutas jerami, jangan menerimanya karena itu riba." (Bukhari)

c. Hadis Mengenai Riba Al-Fadhl


"Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya'ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya'ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barang siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa." (HR. Muslim No. 1584)

3. Jenis-jenis Riba


Berdasarkan kajian para Fuqaha, Mazhab Hanafiyyah, Malikiyah, dan Hanabilah mengelompokkan riba menjadi dua bagian, yaitu riba an-nasi'ah dan riba al-fadhl. Riba an-nasi'ah adalah pertukaran atau penangguhan penyerahan barang ribawi (emas, perak, gandum, jewawut, kurma, dan garam) yang memiliki perbedaan mengenai kualitas, kuantitas, ataupun perbedaan lainnya pada saat barang tersebut dikembalikan ataupun ditukarkan. Sedangkan yang dimaksud dengan riba al-fadhl adalah pertukaran barang sejenis dengan kualitas ataupun kuantitas yang berbeda (Marwini, 2017).

4. Hikmah Pelarangan Riba


Berikut beberapa hikmah dari adanya pelarangan riba bagi umat manusia (Muhammad Tho'in, 2016):
a. Dapat membentuk karakter dan pribadi manusia yang berakhlak mulia, peduli kepada sesama manusia, dan suka tolong-menolong dalam kebaikan. Sehingga kemungkinan untuk terjadinya konflik dalam kehidupan bermasyarakat sangatlah kecil dan tidak berpeluang untuk memutuskan persaudaraan antara sesama umat manusia.
b. Mendidik manusia untuk terus produktif dan bekerja dengan penuh keikhlasan dan terhindar dari sikap bermalas-malasan.
c. Meningkatkan keahlian serta kemampuan manusia dalam memenuhi kebutuhannya, sehingga menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki kapasitas diri yang baik.

5. Dampak dari Praktek Riba


Berikut beberapa dampak yang timbul akibat adanya praktek riba (Abdul Salam, 2013):
a. Riba dapat menjadikan orang yang kaya semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin, hal ini dikarenakan orang miskin yang berutang pada orang kaya harus mengembalikan uang yang dipinjamnya melebihi dari jumlah uang pada saat dipinjamnya.
b. Investasi pada bidang-bidang yang produktif akan menurun, dikarenakan orang-orang yang memiliki banyak dana menggunakan dananya untuk memberikan pinjaman berbunga, sehingga dana tersebut tidak memberikan manfaat lebih kepada masyarakat dan tidak dapat menciptakan lapangan kerja.
c. Usaha yang dibangun oleh seseorang dengan dana yang diperoleh dari pinjaman berbunga lama-kelamaan akan bangkrut dikarenakan laba yang diperoleh dari usaha tersebut harus digunakan untuk membayarkan bunga dan pokok pinjaman.
d. Riba dapat merusak kehidupan berumah tangga apabila si peminjam tidak mampu  mengembalikan uang yang dipinjamnya ditambah bunga pinjaman.
e. Riba dapat menimbulkan permusuhan serta sikap tidak peduli terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain.
f. Riba adalah sebuah bentuk penjajahan secara halus yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain ataupun suatu negara terhadap negara lain.

6. Jalan Keluar dari Riba


Islam memiliki karakteristik yang luar biasa, dimana selalu mengubah hal-hal yang buruk menjadi hal yang baik, dengan demikian selalu muncul jiwa-jiwa untuk berijtihad dari orang muslim itu sendiri. Berkaitan dengan hal ini, M. Nejatullah Siddiqi menawarkan sebuah ide mengenai Islamisasi ekonomi yaitu dengan upaya untuk mengubah cara pandang kapitalistik (sistem bunga-berbunga) menjadi sistem bagi hasil melalui akad musyarakah. Oleh karena itu, ide tersebut menjadi suatu hal yang perlu ditanggapi dan dipertimbangkan dengan baik. Tujuan pelarangan riba tidaklah terlepas dari upaya untuk mengajari umat manusia agar peduli antara satu sama lainnya dan saling tolong-menolong dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Di sisi lain Islam juga mengajarkan umat manusia agar tidak hanya berfokus pada keuntungan semata akan tetapi harus memikirkan kegiatan sosial juga agar kehidupan umat manusia di dunia ini lebih tentram, aman, damai, dan makmur (Muhammad Ridwan Nurrohman, 2017).

Daftar Pustaka:


Muhammad Afdi Nizar. (2007). Analisis Perilaku Menabung Masyarakat dalam Deposito pada Bank Syariah Paska Fatwa MUI tentang Keharaman Bunga. Jurnal Keuangan dan Moneter. Vol. 10, No. 3, Desember 2007

Abdul Salam. (2013). Bunga Bank dalam Perspektif Islam (Studi Pendapat Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah). Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia. Vol. 3, No. 1, Juni 2013

Ashfaq Ahmad, Kashifur Rehman and Asad Afzal Humayoun. (2011). Islamic Banking and Prohibition of Riba/Interest. African Journal of Business Management. Vol. 5, pp. 1763-1767, 4 March 2011

Abdul Rahim. (2015). Konsep Bunga dan Prinsip Ekonomi Islam dalam Perbankan Syariah. Human Falah. Vol. 2, No. 2, Juli 2015

Muhammad Arif, Dr. Ashiq Hussain and Muhammad Azeem. (2012). Riba Free Economy Model. International Journal of Humanities and Social Science. Vol. 2, No. 6, March 2012

M. Umer Chapra. (2006). The Nature of Riba in Islam. The Journal of Islamic Economics and Finance (Bangladesh). Vol. 2, No. 1, January 2006

Marwini. (2017). Kontroversi Riba dalam Perbankan Konvensional dan Dampaknya terhadap Perekonomian. Az-Zarqa'. Vol. 9, No. 1, Juni 2017

Muhammad Tho'in. (2016). Larangan Riba dalam Teks dan Konteks (Studi atas Hadis Riwayat Muslim tentang Pelaknatan Riba). Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam. Vol. 2, No. 2, Juli 2016

Muhammad Ridwan Nurrohman. (2017). Merumuskan Kembali Makna dan Standarisasi Riba; Kajian Kontekstualisasi Hadis. Diroyah: Jurnal Ilmu Hadis. Vol. 1, No. 2, Maret 2017