Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Bank Syariah VS Bank Konvensional: Rangkaian Perbedaan yang Perlu Kita Ketahui

Perbedaan dan Persamaan antara Perbankan Syariah dan Konvensional

Daftar Isi:
  1. Pelarangan Riba
  2. Pelarangan Gharar
  3. Perbedaan Berdasarkan Prinsip Operasional Bank
  4. Prinsip Keadilan
  5. Prinsip Kemitraan
  6. Prinsip Keterbukaan
  7. Univeralitas
  8. Penetapan Bunga (Interest)
  9. Keberadaan DPS (Dewan Pengawas Syariah)

Bank merupakan lembaga keuangan yang berperan sebagai intermediasi keuangan (penghimpun dan penyaluran dana) masyarakat. Saat ini perbankan di Indonesia sudah sangat banyak dan sistem yang digunakanpun beragam macam. Selanjutnya, dari sekian banyak bank dikelompokkan kedalam dua kategori besar yaitu bank konvensional dan bank syariah. Dengan adanya pengelompokan ini sudah pasti kedua jenis perbankan ini memiliki perbedaan yang menarik untuk dibahas, pada artikel kali ini penulis akan mencoba untuk mengulas lebih mendalam mengenai perbedaan tersebut. Berikut ini merupakan perbedaan antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional:


1. Pelarangan Riba 


Pelarangan riba pada perbankan syariah berpedoman kepada Al-Quran dan Hadis, salah satu bagian yang termasuk ke dalam riba pada perbankan secara umum yaitu bunga pinjaman, hal ini sesuai dengan kesepakatan jumhur ulama, dimana riba tersebut mencakup berbagai kelebihan atas pinjaman. Oleh karena itu, bank syariah menghindari yang namanya riba agar setiap transaksi yang dilakukan halal secara syariat. Bebeda halnya dengan perbankan konvensional, bunga bank dijadikan sebagai kekuatan dalam hal penghimpunan dana dari masyarakat dan juga menjadi bagian paling diminati oleh para nasabah bank konvensional. Semakin tinggi tingkat bunga yang ditawarkan oleh perbankan konvensional, maka akan semakin banyak orang yang akan menyimpan dananya, dikarenakan adanya harapan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

2. Pelarangan Gharar


Hal selanjutnya, yang membedakan antara bank syariah dengan bank konvensional yaitu adanya pelarangan gharar (transaksi yang mengandung ketidaktahuan antara kedua belah pihak). Gharar juga sering disebut dengan yang namanya spekulasi, contoh spekulasi yang dimaksud yaitu membeli saham dengan harga rendah lalu menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Spekulasi ini dapat memberikan efek buruk bagi perusahaan dan dapat menzalimi pihak yang membeli saham (Fany Indriyani, 2015).

3. Perbedaan Berdasarkan Prinsip Operasional Bank


Berikut ini merupakan beberapa prinsip yang diterapkan dalam perbankan syariah agar setiap aktivitas perbankan yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan (Rifadin, 2010):

1) Prinsip Keadilan


Prinsip keadilan merupakan salah satu prinsip yang diterapkan dalam perbankan syariah. Keadilan yang dimaksud antara lain yaitu adanya kesepakatan antara kedua belah pihak dalam hal pengambilan imbalan ataupun penentuan terhadap jumlah keuntungan (margin). Dengan adanya pinsip keadilan ini tentunya akan menumbuhkan kepercayaan para pihak yang bekerjasama dengan bank syariah untuk terus menjalin hubungan kerja yang baik dengan pihak perbankan.

2) Prinsip Kemitraan


Kedudukan nasabah dalam perbankan syariah setara dengan mitra usaha, sehingga tidak ada yang lebih berhak untuk mengambil keputusan tanpa adanya persetujuan dari salah satu pihak (bank dan nasabah). Begitu juga dalam hal pembagian keuntungan ataupun risiko, maka hal itu akan disepakati terlebih dahulu sesuai dengan keridhaan kedua belah pihak. Dengan demikian Bank Syariah hanya berkedudukan dan berfungsi sebagai pihak yang memberikan jasa pelayanan dana (menghimpun dan menyalurkan dana).

3) Prinsip Keterbukaan


Prinsip ini menjadi salah satu hal yang dapat memikat hati para nasabah, dengan adanya laporan keuangan serta pencatatan terhadap transaksi yang jelas dan terbuka, maka akan memberikan sebuah pandangan baik terhadap perbankan syariah. Dan akan memberikan peluang terhadap keberlangsungan perbankan syariah.

4) Univeralitas


Dalam menjalankan operasionalnya bank syariah tidak membeda-bedakan kelompok nasabah. Baik itu nasabah yang beragama Islam maupun nasabah yang beragama selain Islam tetap akan diutamakan dan diberikan pelayanan serta fasilitas yang baik. Dengan demikian, perbankan syariah tidak hanya berguna bagi umat Islam saja, akan tetapi juga berguna bagi seluruh umat.

Sedangkan prinsip-prinsip yang terdapat dalam perbankan konvensional antara lain yaitu:

1) Penetapan Bunga (Interest)


Penetapan Bunga (Interst) dalam perbankan konvensional bertujuan untuk meningkatkan strategi bersaingnya dalam hal menghimpun dana dari masyarakat. Hal ini tentunya tidak dibenarkan dalam Islam, pelarangan riba dalam Islam bukan tidak memiliki hikmah, diantara hikmah dari adanya pelarangan riba yaitu dapat mencegah terjadinya kegiatan ataupun transaksi yang berakibat kepada ketidakadilan dan kezaliman. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Islam merupakan agama yang peduli akan kepentingan jamaah (kepentingan berkelompok), dimana antara umat yang satu dengan umat yang lainnya harus saling membantu dan peduli dalam hal mencukupi kebutuhannya, Islam tidak menginginkan adanya kegiatan pemaksaan dari orang-orang yang berkelebihan dana terhadap orang yang kekurangan dana dengan cara penetapan bunga pinjaman. Karena kegiatan pemaksaan dengan penetapan bunga dapat mengakibatkan kemiskinan ataupun kesenjangan ekonomi yang berkepanjangan. (Kalsum, 2014)

4. Keberadaan DPS (Dewan Pengawas Syariah)

Perbankan syariah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS), yang mana DPS ini betugas dan bertanggung jawab dalam hal mengawasi aktivitas ataupun operasional perbankan syariah agar tetap sesuai dengan syariah Islam. Kedudukan DPS dalam perbankan syariah biasanya sederajat dengan dewan komisaris. Para aggota DPS ditetapkan berdasarkan hasil keputusan rapat pemegang saham dari para calon yang sudah mendapatkan arahan dan rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) (Hafizh Maulana, 2014). Hal ini berbeda jauh dengan perbankan konvensional dimana dalam operasional dan struktur organisasinya perbankan konvensional tidak memiliki Dewan Pengawas Syariah, akan tetapi perbankan konvensional akan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Daftar Pustaka:

Fany Indriyani. (2015). Komparasi Kinerja Perbankan Syariah dengan Bank Konvensional: Suatu Studi Literatur. Jurnal Muqtasid. Volume 6 Nomor 2, Desember 2015

Rifadin. (2010). Tinjauan Deskriptif Sistem Pembagian Hasil Bank Syariah dengan Bank Konvensional (Sebuah Kajian Konseptual). JURNAL EKSIS. Vol.6 No.1, Maret 2010: 1267 – 1266

Kalsum, U. (2014). Riba dan Bunga Bank dalam Islam (Analisis Hukum dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Umat. Jurnal Al-‘Adl, 7(2), 67–83.

Hafizh Maulana. (2014). Implikasi Kewenangan Dewan Pengawas Syariah Terhadap Sistem Pengawasan di Bank Aceh Syariah. Share: Vol. 3, No. 1, Januari-Juni 2014