Biaya Umroh Plus

Info Biaya Umroh

Sekilas Perbedaan antara Asuransi Syariah dan Konvensional

Sekilas Perbedaan antara Asuransi Syariah dan Konvensional

Daftar Isi:
  1. Perbedaan Berdasarkan Konsep
  2. Perbedaan Berdasarkan Prinsip-prinsip Pengelolaan Asuransi
  3. Prinsip Tauhid
  4. Prinsip Keadilan
  5. Prinsip Tolong-menolong
  6. Prinsip Amanah
  7. Prinsip Saling Ridha (‘An Taradhin)
  8. Prinsip Menghindari Riba
  9. Prinsip Menghindari Maysir
  10. Prinsip Menghindari Gharar
  11. Prinsip Menghindari Risywah
  12. Berserah Diri dan Ikhtiar
  13. Saling Bertanggung Jawab
  14. Saling Melindungi dan Berbagi Kesusahan
  15. Insurable Interest
  16. Utmost Good Faith (Kejujuran Sempurna)
  17. Indemnity (Ganti Rugi)
  18. Subrogation (Penggantian Hak-hak oleh Pihak Ketiga)
  19. Contribution (Kontribusi)

Mengetahui perbedaan antara Asuransi Syariah dan Konvensional merupakan hal yang sangat penting. Karena dengan kita mengetahui perbedaannya maka akan lebih mudah dalam hal mengambil keputusan ataupun memberikan pendapat mengenai kedua jenis asuransi tersebut. Maka untuk itu, mari kita simak dengan baik beberapa penjelasan di bawah ini:

1. Perbedaan Berdasarkan Konsep


Asuransi Konvensional memiliki konsep yang berupa perjanjian antara dua pihak atau lebih, yang mana salah satu pihak berperan sebagai penanggung dan pihak satu lagi sebagai tertanggung, proses menanggung yang ada dalam Asuransi Konvensional berdasarkan pembayaran premi, premi yang dibayarkan oleh para peserta akan digunakan untuk menutup kerugian yang akan terjadi di masa mendatang (untuk pembayaran ganti rugi). Berbeda halnya dengan Asuransi Syariah yang merupakan sekumpulan orang yang saling membantu antara satu sama lainnya, menjamin, serta bekerjasama melalui kegiatan menyalurkan dana dengan prinsip tabarru’. Prinsip inilah yang menjadikan konsep Asuransi Syariah berbeda dengan konsep Asuransi Konvensional (Ilyas, 2014).

2. Perbedaan Berdasarkan Prinsip-prinsip Pengelolaan Asuransi


Menurut Amrin (2011), pengelolaan Asuransi Syariah menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut (Novi Puspitasari, 2011): 

1) Prinsip Tauhid


Masalah tauhid adalah masalah utama yang harus diperhatikan oleh setiap muslim dalam menjalankan segala aktivitasnya di muka bumi ini, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan asuransi. Dalam berasuransi syariah setiap jiwa diharapkan dapat memperkokoh niatnya, yaitu dengan niat untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Tidak ada hal lain yang lebih penting bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini melainkan mendapatkan ridha Allah SWT. Oleh karena itu, dalam Asuransi Syariah terdapat yang namanya asas syariah, asas ini bertujuan untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan berasuransi, kemudian jika ditinjau dari sisi para peserta asuransi, maka ditemukan yang namanya asas tolong-menolong yang dilakukan antara sesama peserta dalam Asuransi Syariah. Prinsip tolong-menolong ini sangatlah penting dalam hal mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

2) Prinsip Keadilan


Asuransi Syariah menerapkan prinsip keadilan yaitu dengan tetap mengembalikan hak masing-masing pihak atau dalam kata lain tidak menjadikan uang yang telah disetor oleh para peserta dalam bentuk premi asuransi habis dengan sia-sia (hangus). Hal ini sejalan dengan Firman Allah berikut ini:

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah,  menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah ayat 8)

3) Prinsip Tolong-menolong


Prinsip ini tercipta saat para peserta saling peduli dan menolong sesamanya yang diimplementasikan dengan cara membantu peserta yang terjadi musibah atau kerugian. Hal ini akan terus bergiliran sesuai dengan kejadian yang terjadi, setiap pihak yang bergabung dengan Asuransi Syariah harus bisa menanamkan prinsip tolong-menolong agar suasana tetap aman dan saling memahami antara satu sama lainnya. Para peserta tak hanya sekedar mendapatkan bantuan dari peserta lain, akan tetapi para peserta dapat merasakan rasa kekeluargaan dan pencapaian tujuan bersama yang mudah. Pihak perusahaan tidak menggunakan dana para pesertanya untuk mengembangkan perusahaan, akan tetapi pihak perusahaan hanya bertugas sebagai pengelola modal atau dana nasabah agar dana yang telah dikumpulkan tersebut tetap aman dan bermanfaat. Berkaitan dengan tolong-menolong Allah telah berfirman yang artinya:

“Dan bertolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”. (QS. Al-Maidah ayat 2)

4) Prinsip Amanah


Dalam Asuransi Syariah semua pihak dituntut untuk amanah. Karena amanah (terpercaya) merupakan hal yang paling penting. Dari sisi perusahaan asuransi, amanah yang dimaksud yaitu pengelolaan yang baik terhadap dana para peserta, antara lain dengan memberikan informasi yang jelas tentang pengelolaan dana tersebut. Sedangkan dari sisi para anggota/peserta asuransi, amanah yang dimaksud berupa kebenaran dalam penyampaian informasi mengenai risiko yang dihadapinya. Pihak peserta tidak boleh berpura-pura ataupun rekayasa terhadap risiko demi memperoleh keuntungan dengan cara mengambil yang bukan haknya. Apabila kedua belah pihak (Asuransi Syariah dan Peserta) dapat menerapkan dengan baik prinsip amanah maka tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau penipuan dalam aktivitas berasuransi. Semua pihak yang terlibat harus percaya dan yakin bahwa Allah Maha Mengetahui tentang apa yang dilakukan oleh seseorang hamba sehingga pihak tersebut tidak berani untuk menzalimi sesamanya dan dirinya sendiri. Setiap transaksi yang dilakukan dengan amanah, maka pelakunya akan mendapatkan kebaikan serta dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Berikut hadis Rasulullah yang menjelaskan tentang hal tersebut:

Dari Abdullah bin ‘Umar r.a. bahwa Rasulullah SAW. Bersabda: “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq, dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti). (HR. Ibnu Majah (no. 2139), al-Hakim (no. 2142), dan ad-Daraquthni (no. 17), dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi ada hadis lain yang menguatkannya, dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, HR at-Tirmidzi (no. 1209) dan lain-lain. Oleh karena itu, hadis dinyatakan baik sanadnya oleh imam adz-Dzahabi dan syaikh al-Albani (lihat “ash-Shahiihah” no. 3453).

5) Prinsip Saling Ridha (‘An Taradhin) 


Prinsip ini merupakan prinsip yang sangat perlu untuk diperhatikan, dikarenakan kerelaan (ridha) seseorang akan menentukan keberlanjutan dalam sebuah akad yang dilakukan. Apabila pihak nasabah dan pihak asuransi sama-sama rela (ridha) dalam melakukan akadnya maka akad tersebut akan berjalan dengan lancar dan akan mencapai tujuan yang diinginkan. Namun, jika kerelaan tidak tertanam di hati kedua belah pihak yang melakukan akad, maka akad tersebut tidak akan berjalan dengan baik dan akan menimbulkan berbagai macam masalah. Saling ridha (‘an taradhin) yang dimaksud dalam hal ini antara lain yaitu keridhaan nasabah atas pengelolaan dananya oleh pihak asuransi dan keridhaan pihak asuransi dalam hal menerima dan menjaga amanah yang diberikan para nasabah untuk mengelola dana yang telah diserahkan kepadanya. 

6) Prinsip Menghindari Riba


Riba merupakan tambahan atau kelebihan yang diberikan dari adanya kegiatan pinjam-meminjam uang ataupun tukar-menukar barang sejenis dengan berbeda kualitas maupun kuantitasnya. Dalam perbankan riba yang dianggap sebagai hasil dari pinjam-meminjam uang yaitu bunga pinjaman. Bunga pinjaman dianggap sebagai riba karena penambahan yang diberikan tersebut telah diperjanjikan di awal transaksi, sehingga memberatkan sebelah pihak atau bahkan terzalimi dengan adanya bunga tersebut. Pemberian bunga sebenarnya dapat memberikan dampak yang buruk bagi pihak bank itu sendiri, tak hanya dalam perbankan, riba tetap dilarang dalam segala bidang maupun jenisnya. Untuk menghindari hal-hal buruk yang ditimbulkan dengan adanya penggunaan riba, maka pihak Asuransi Syariah menjadikan prinsip pelarangan riba sebagai prinsip yang penting untuk dipatuhi dan dijalankan bersama pihak-pihak yang bekerjasama dengannya.

Praktik pencegahan riba yang dilakukan oleh Asuransi Syariah diantaranya yaitu dengan menginvestasikan dana tabarru’ (tolong-menolong) kepada bidang-bidang yang halal, yang tidak bersangkut paut dengan yang namanya riba. Berbeda halnya dengan Asuransi Konvensional yang terkadang dana yang telah diperoleh dari nasabahnya diinvestasikan ke sektor-sektor yang masih berkaitan atau berhubungan dengan riba. Padahal riba sudah begitu jelas dan tegas dilarang dalam agama Islam.

7) Prinsip Menghindari Maysir


Maysir adalah kegiatan mendapatkan sesuatu dengan cara yang sangat mudah, dimana pihak yang melakukannya tidak perlu bekerja keras, hanya dengan menggunakan keahliannya dalam spekulatif ataupun permainan untung-untungan saja sudah dapat menikmati hasilnya, maysir ini sering disamakan dengan judi, karena keduanya memiliki kesamaan dalam hal definisi ataupun praktiknya.

Maysir termasuk salah-satu kegiatan yang dilarang oleh Allah SWT. Dikarenakan kegiatan tersebut tergolong ke dalam cara memperoleh harta dengan jalan yang batil dan menjadikan pelakunya bermalas-malasan. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 219 yang artinya:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”. (QS Al-Baqarah: 219)

Kegiatan berbagi risiko dalam Asuransi Syariah menjadi kegiatan yang dapat mencegah terjadinya kegiatan perjudian, hal ini seseuai dengan praktik yang dilakukan oleh pihak Asuransi Syariah, dimana dalam hal pembayaran klaim kepada para peserta yang mengalami musibah ataupun kerugian, dana yang diberikan berasal dari dana tabarru’, yaitu dana yang telah dikumpulkan oleh para peserta asuransi, yang kegunaannya yaitu untuk membantu sesama mereka. Dengan demikian, pihak Asuransi Syariah tidak merasa dirugikan sama sekali dengan adanya kegiatan pembayaran klaim. Begitu juga bila tidak adanya klaim oleh para pesrerta atau klaimnya kecil maka pihak Asuransi Syariah tidak akan diuntungkan dengan sisa cadangan dana tabarru’ tersebut, dikarenakan pihak Asuransi Syariah tetap menganggap bahwa sisa dana tersebut merupakan hak nasabah seutuhnya dan akan dikembalikan kepada para nasabahnya dalam bentuk pembayaran klaim pada periode selanjutnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tidak adanya kegiatan yang mengandung unsur-unsur maysir dalam hal tersebut. Berbeda halnya dengan Asuransi Konvensional, dimana pengelolaan dan pembayaran premi menjadi hak dan tanggung jawab perusahaan secara penuh, atau dalam kata lain kegiatan tersebut merupakan kegiatan pengalihan risiko, yang dialihkan dari pihak nasabah kepada pihak asuransi.

8) Prinsip Menghindari Gharar


Gharar merupakan transaksi yang memiliki ketidakjelasan terkait informasi objek yang ditransaksikan. Ketidakjelasan yang dimaksud bukanlah ketidakjelasan atau ketidaktahuan terhadap informasi dari salah satu pihak, akan tetapi ketidakjelasan ini merupakan ketidakjelasan atau ketidaktahuan oleh kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Hal ini tentu menjadi suatu hal yang buruk bagi kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Maka dari itu, pihak Asuransi Syariah berupaya untuk selalu terbuka dengan para pesertanya. Ketidaktahuan terhadap kapan terjadinya musibah ataupun risiko bukanlah sesuatu yang gharar, karena itu merupakan kekuasaan Allah, dan hanya Allah yang mengetahui kapan akan terjadinya musibah atau kerugian pada seseorang hamba. Cara untuk menghindari gharar yang dilakukan oleh pihak Asuransi Syariah berupa kejelasan dan kelengkapan informasi mengenai dana yang dikelolanya (dana tabarru’).

9) Prinsip Menghindari Risywah


Kegiatan risywah (sogok-menyogok) merupakan kegiatan yang tidak baik untuk dilakukan dalam bidang apapun termasuk dalam bidang asuransi. Karena dengan adanya kegiatan risywah ini dapat mengakibatkan salah satu pihak rugi. Tak hanya itu, kegiatan risywah juga sering disebut sebagai kegiatan mengambil hak yang bukan haknya, atau menginginkan sesuatu dan berusaha untuk mendapatkannya dengan cara yang curang. Dalam Asuransi Syariah kegiatan risywah sangatlah dilarang karena dapat merugikan pihak asuransi. Salah satu contoh transaksi risywah yang kemungkinan terjadi dalam asuransi yaitu kegiatan menyogok oknum asuransi untuk mendapatkan premi atau klaim, yang padahal premi tersebut bukan haknya. Atau mengajak oknum untuk mengakui kegiatan rekayasa kerugian atau kegiatan berpura-pura mengalami musibah oleh pihak peserta atau nasabah.

10) Berserah Diri dan Ikhtiar


Kita sebagai umat Islam wajib untuk bertakwa dan berserah diri kepada Allah, karena Allah-lah yang memberikan kita kesehatan, kesempatan, kekayaan, dan berbagai macam nikmat dan rahmat lainnya. Dibalik semua itu, kita juga harus memahami bahwa Allah merupakan Zat yang Maha Kuasa dan Maha Kaya, sehingga tidak ada satu makhluk pun untuk melarang atau mengatur apa yang dikehendaki-Nya, termasuk dalam hal pemberian rezeki. Hal ini sesuai dengan Firman Allah sebagai berikut:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. Al-Baqarah: 255).

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Baqarah: 284).

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Maidah:120).

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah (QS. Thaha: 6).

11) Saling Bertanggung Jawab


Kegiatan saling peduli dan beranggung jawab terhadap sesama peserta ataupun antara pihak asuransi dengan para pesertanya menjadi suatu kegiatan yang harus dipertahankan. Karena, dengan adanya sikap saling bertanggung jawab seseorang akan lebih mengerti dan memahami akan adanya batasan-batasan tertentu dalam berasuransi serta tau cara mengambil sebuah keputusan yang benar dan bermanfaat. Allah telah berfirman yang artinya:

“Setiap kamu adalah pemikul tanggung jawab dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap orang-orang yang di bawah tanggung jawabmu (HR. Bukhari dan Muslim)”

“Seseorang tidak dianggap beriman sehingga ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri” (HR. Bukhari)

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain (dalam suatu masyarakat) seperti sebuah bangunan dimana tiap-tiap bagian bangunan itu mengukuhkan bagian- bagian yang lain” (HR. Bukhari dan Muslim)

12) Saling Melindungi dan Berbagi Kesusahan


Prinsip saling melindungi dan berbagi kesusahan sangatlah penting untuk tetap dipertahankan, karena pada dasarnya manusia ini adalah makhluk yang lemah, seseorang tidak dapat melakukan sesuatu tanpa ada bantuan sedikitpun dari orang lainnya, hal ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan dan perlindungan. Asuransi Syariah merupakan salah satu lembaga yang menerapkan prinsip saling melindungi dan bersama-sama dalam merasakan kemudahan ataupun kesulitan.

Sementara itu, pengelolaan asuransi konvensional menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1) Insurable Interest (Kepentingan yang Dapat Diasuransikan)


Dalam hal ini pihak tertanggung harus memiliki kaitan keuangan dengan objek yang dipertanggungkan agar dia memperoleh keakuratan hukum yang berlaku dalam asuransi. Kemudian, jika terjadi musibah atas objek yang dipertanggungkan (diasuransikan) dan terbukti bahwa pihak tertanggung tidak memerlukan uang (tidak adanya kepentingan keuangan) terhadap objek yang dipertanggungkan, maka pihak tertanggung tidak berhak mendapat uang atau pembayaran klaim oleh pihak asuransi.

2) Utmost Good Faith (Kejujuran Sempurna)


Kejujuran salah satu hal yang perlu dan wajib ada dalam setiap aktivitas, tanpa adanya kejujuran semuanya akan berantakan dan tidak berjalan sesuai dengan perencanaan. Dalam Asuransi Konvensional kejujuran tetap dijadikan sebagai point penting dalam menjalankan operasionalnya. Kejujuran yang dimaksud antara lain yaitu: kejujuran para peserta asuransi dalam menginformasikan mengenai risiko atau musibah yang terjadi, kejujuran dalam menjelaskan objek yang diasuransikan, dan sebagainya. Sedangkan kejujuran dari pihak asuransi yaitu kejujuran dalam memberikan informasi terkait pengelolaan dana yang telah diterima dari para peserta.

3) Indemnity (Ganti Rugi)


Dengan adanya prinsip ini maka pihak yang menanggung harus memberikan ganti rugi kepada pihak tertanggung apablia terjadi kerugian, jumlah yang harus dibayarkan sesuai dengan kesepakatan disaat pertamakali transaksi tersebut dilakukan dan sesuai dengan porsi uang yang telah disetor kepada pihak asuransi. Prinsip ganti rugi ini berperan sebagai penyeimbang keuangan dalam kegiatan berasuransi yang dilakukan antara para peserta asuransi dengan perusahaan.

4) Subrogation (Penggantian Hak-hak oleh Pihak Ketiga)


Prinsip subrogation diatur dalam pasal 284 kitab Undang-undang Hukum Dagang yang berbunyi:

“Apabila seorang penanggung telah membayar ganti rugi sepenuhnya kepada tertanggung, maka penanggung akan menggantikan kedudukan tertanggung dalam segala hal untuk menuntut pihak ketiga yang telah menimbulkan kerugian kepada tertanggung”.

5) Contribution (Kontribusi)


Prinsip ini digunakan apabila terjadinya pertanggungan rangkap, yaitu pertanggungan yang mana pihak tertanggung memiliki lebih dari satu polis atas objek pertanggungan yang serupa. Karena itu, apabila terjadi kerugian, maka pihak tertanggung tidak dibenarkan untuk menerima ganti rugi melebihi kerugian yang dialaminya. Dalam arti lain, pihak penanggung telah menunaikan kewajibannya untuk membayar seluruh kerugian yang dialami pihak tertanggung. Dengan demikian, pihak penanggung dibenarkan dan berhak untuk menuntut pihak-pihak perusahaan yang berhubungan dengan kegiatan pertanggungan, yang tujuannya yaitu untuk membayar kerugiannya masing-masing yang sesuai dengan jumlah pertanggungan yang dilunasi atau dibayarkannya.


Daftar Pustaka:


Ilyas. (2014). Studi Komperatif Prinsip Asuransi Jiwa Takaful dan Asuransi Jiwa. Kanun Jurnal Ilmu Hukum. No. 62, Th. XVI (April, 2014)

Novi Puspitasari. (2011). Sejarah dan Perkembangan Asuransi Islam Serta Perbedaannya dengan Asuransi Konvensional. JEAM Vol X No. 1/2011 35